Ragam

SMA Terbuka SMAN 2 Lembang Jadi Solusi Perluasan Akses Pendidikan di Pelosok Perbatasan

adminsigiku.com
×

SMA Terbuka SMAN 2 Lembang Jadi Solusi Perluasan Akses Pendidikan di Pelosok Perbatasan

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Deni HM – Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung Barat)-, Dalam rangka meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) dan rata-rata lama sekolah. Dinas Pendidikan Jawa Barat memperbanyak penyelenggaraan SMA Terbuka untuk memberikan layanan pendidikan. Melalui perluasan akses bagi masyarakat Jawa Barat yang belum terlayani di sekolah reguler, terkendala oleh kondisi geografis, keterbatasan waktu, kondisi ekonomi, kondisi sosial budaya. Sehingga mereka dapat memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan jenjang menengah yang bermutu. Dengan adanya program SMA terbuka yang dikembangkan dari SMA yang sudah ada, lalu membuka tempat kegiatan belajar (TKB) di daerah-daerah tertentu yang tidak dapat terjangkau oleh SMA/SMK/MA.

“Kepala SMAN 2 Lembang bersama wali kelas dan guru SMA Terbuka di ruang kerjanya”

Nano Sutisna, S.Sos, Wali Kelas 10 SMA Terbuka SMAN 2 Lembang memaparkan sebagai pelaksana di SMA terbuka sekarang ini yang menginjak 8 bulan. Saya ditugaskan menjadi guru Pamong di SMA terbuka SMAN 2 Lembang. “Alhamdulillah setelah kita dipilih untuk membuka sekolahnya, kami bergerak bersama-sama dengan manajemen untuk mencari siswanya. Alhamdulillah hasilnya mendapatkan sekitar 52 siswa, sesuai dengan jumlah yang diharapkan atau ditentukan dari dinas pendidikan yaitu minimal membuka 2 kelas,” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online di sekolahnya (8-4-2022)

Dua kelas itu ada di dua Tempat Kegiatan Belajar atau TKB yaitu TKB Wangun Harja dengan TKB Lembang.  SMA Terbuka ini dipimpin oleh kepala sekolah yang sangat luar biasa. Beliau sangat lincah, terbiasa bergerak cepat. Ketika ada instruksi dari atasannya langsung, disampaikan kepada bawahan dan kita pun harus bisa menyesuaikan hal itu yang sangat luar biasa. Bagi kami guru muda, keteladan itu merupakan bentuk tantangan untuk menyesuaikan diri dengan karakter ibu Lina, kita harus bisa mampu menyesuaikan atau beradaptasi.

Selain itu juga bagi saya kehadiran jiwa pemimpin dari Ibu Lina, berpengaruh sekali terhadap wawasan ataupun pengalaman. Karena kami guru muda butuh sekali pengalaman-pengalaman dari beliau. Semuanya kita peroleh ketika kita ditunjuk oleh beliau langsung dengan cara ikut berpartisipasi kelapangan mulai dari mencari siswa, melihat dan memilih TKB, bahkan langsung menemui orang tua siswa yang akan masuk ke SMA Terbuka ini.

Menurutnya untuk tempat itu dibagi menjadi dua yaitu TKB Wangun Harja dan Lembang. Karena ada anak dan orang tua siswa reguler yang menjadi pengurus Masjid yang mampu memfasilitasinya. Kebetulan untuk tempat belajarnya kita menggunakan masjid, karena tidak ada tempat-tempat yang memang strategis untuk proses pembelajaran. Awalnya ada orang tua dari siswa yang reguler menawarkan untuk proses pembelajaran di masjid itu, masjidnya namanya masjid al-ikhlas Kampung Cibitung Cupunagara Kabupaten Subang.

Satunya lagi kita mempergunakan fasilitas umum berupa Masjid Agung Lembang, kita sudah berkomunikasi dengan pengurusnya. Perihal tempat untuk melakukan pembelajaran di sana, namun untuk prosesnya kita berikan kebebasan siswa memilih, antara di SMAN 2 Lembang atau di masjid Agung Lembangnya. Supaya anak itu tidak jenuh dengan adanya pergantian tempat belajarnya. Mereka yang belajar itu rata-rata lulusan SMP atau pemuda putus sekolah yang maksimal 20 tahun usianya. Biasanya mereka sulit melanjut sekolah, karena mereka itu kebanyakan harus  bekerja.

“Rata-rata dari anak para petani yang mereka tidak memiliki lahan, tapi berupaya membantu perekonomian orang tua. Alhamdulillah meskipun dia belajar sambil bekerja di tempat perkebunan melalui modul yang diberikan . Tapi mereka punya motivasi untuk belajar dan melanjutkan pendidikannya. Sebagai wali kelasnya, saya melihat mereka meminati SMA Terbuka, karena gurunya sama, ijazahnya juga sama dan materi pembelajarannya sama seperti sekolah reguler. Namun hanya waktunya saja yang berbeda. Siswanya belajar pada hari sabtu saja secara khusus bersama gurunya,” katanya

Untuk kurikulum kita samakan dengan yang reguler, kita menggunakan sistem pembelajaran kolaboratif. Jadi satu pembelajaran itu memiliki tiga mata pelajaran minimal 3 mata pelajaran. Keduanya juga kita menggunakan modul yang terdapat 3 mata pelajaran, otomatis anak itu dipermudah dalam proses pembelajarannya. Setiap kita mengajar kita memberikan modul dan menyampaikan materi secara singkat. Selanjutnya mereka bisa membaca di rumah melalui modul tersebut.

“Apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti bisa dikomunikasikan dengan guru yang bersangkutan ataupun wali kelasnya langsung. Misalnya ada anak sulit memahami matematika kita akan berikan nomor kontak guru matematikanya untuk mengkomunikasikan melalui video call ataupun untuk memberikan penjelasannya lewat washapp. Sehingga mereka dapatkan konsultasi untuk proses belajarnya,” ungkapnya

Selanjutnya dari proses belajar itu, harapan kami setelah mereka lulus, bisa meningkatkan kondisi perekonomiannya. Mudah-mudahan dengan mendapatkan ijazah minimal SMA, mereka punya bekal untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Dan saya juga berharap kepada pemerintah terkecil atau dari Rt-Rw sampai kepala desa, supaya berperan mendukung atau memberikan motivasi para siswa putus sekolah untuk tetap melanjutkan pendidikannya, tetap semangat belajar.

Kepala SMAN 2 Lembang, Lina, S.Pd, M.T, mengungkapkan sejak sekolahnya ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Jabar membuka SMA Terbuka dan mengadakan kegiatan untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat. “Saya yakin dengan tingkat pendidikan yang semakin berkembang di masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan. Dan itulah wujud Kita sebagai manusia atau guru bisa bermanfaat dengan membuka peluang buat orang-orang yang sangat atau harus dibantu memperoleh hak pendidikan. Apalagi pendidikan SMA itu merupakan jenjang pendidikan yang minimalis, kalau misalnya melamar pekerjaan saat ini,” ungkapnya

Oleh karena itu, kita harus bisa membantu siswa-siswa atau anak-anak lulusannya mampu bersaing di masa depan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Dan semakin banyak aparat pemerintah dalam bidang pendidikan yang mendukung untuk program ini. Sebagai upaya meningkatkan kualitas atau memperluas akses pendidikan di Jawa Barat.