OPINI/Artikel

Kisah Pilu Ade Armando Dan Pengeroyoknya

adminsigiku.com
×

Kisah Pilu Ade Armando Dan Pengeroyoknya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Terus terang Saya merasa kasian pada Ade Armando dan pengeroyoknya. Kedua-duanya layak kita kasihani. Ade Armando terluka parah dan dipermalukan dimuka umum bagaikan begal motor. Padahal Ia adalah dosen dan melekat dengan nama kampus besar Universitas Indonesia.

Para pengeroyok pun kasian, kini penjara akan menjadi rumahnya. Banyak yang mendukung mereka ketika mengeroyok Ade Armando. Tapi hanya kata kata, tidak menemani di penjara.

Mereka korban kata – kata kita. Pendukungnya ada guru ASN, Politisi dan simpatisan dari entitas tertentu. Ini dinamika sosial Politik kita.

Ade Armando kasian menderita terkapar di rumah sakit. Para pengeroyok pun akan lelah dan kepayahan dalam menghadapi proses hukum. Mereka pun akan dianggap penjahat oleh sebagian orang dan dimata hukum.

Ade Armando dan pengeroyok keduanya merasa benar dan tidak salah. Ade Armando dengan segala kritik ekstrimnya merasa benar. Ade Armando melalui sahabatnya, Nong Darol Mahmada, menyampaikan pesan untuk tidak takut karena Allah bersama orang yang menegakan kebenaran.

Ade Armando merasa benar dan merasa Allah bersamanya. Ia pasti tidak akan pernah berhenti melakukan kritik tajam dan ekstrim. Kritik tajam, ekstrim dan menyakitkan bagi sejumlah publik adalah branding Ade Armando. Ia merasa benar. Susah berhenti kalau orang merasa benar.

Termasuk para pengeroyok, mereka merasa benar dan mungkin merasa bagian jihad bila melukai dan menelanjanginya. Sayangnya mereka berada di giat orang lain. Penumpang gelap dan penyusup menjadi label mereka dikalangan mahasiswa. Mahasiswa dirugikan hajatnya, bagai nila di belanga susu.

Saya sebenarnya lebih kasian pada pengeroyok. Mengapa ? Mereka bila kita lihat latar belakangnya beragam sikon. Baik secara ekonomi, pendidikan dan keluarganya tidak semapan Ade Armando. Sungguh pilu, keluarga wong cilik, korban sebuah keadaan ekosospolmed.

Cuitan keras Ade Armando telah menyakiti mereka dan termasuk kritik Ade Armando pada Anies Baswedan sangat-sangat tajam dan terlihat subjektif. Saya tak setuju Ade Armando terlalu “menghantam” Anies Baswedan. Narasi-narasi Ade Armando sangat “kejam” bagi entitas tertentu.

Bagi akademisi dan sejumlah “pemikir nakal” narasi Ade Armando biasa-biasa saja. Bagi pihak “tertentu” sangat menyakitkan dan dianggap menyesatkan. Termasuk narasi Ade Armando menyerang Pendeta Saipudin Ibrahim yang menjelek-jelekan agama Islam. Ade pun berseteru dengan Pendeta Saipudin Ibrahim. Tapi tanggal 11 April Ade Armando dengan mahasiawa dan pengeroyoknya satu tujuan, “Tolak Tiga Periode”.

Bila dua orang atau dua entitas merasa benar maka ini akan jadi masalah. Masalah terbesar manusia adalah merasa benar dan merasa paling benar yang lain salah, kasian keduanya. KH Buya Syakur mengatakan “Jangan merasa paling benar, belum tentu benar” yang maha benar hanya Allah saja.

“Kalau Anda ingin benar jangan pernah merasa benar” demikian kata KH Buya Syakur. Jadi orang yang benar adalah orang yang meras belum benar, maka Ia akan terus belajar dan belajar mencari kebenaran. Merasa diri paling benar sendiri akan bertengkar dan selalu menyalahkan orang lain.

KH Buya Syakur mengaitkan dinamika perbedaan realitas sosial kita dengan hadits yang menyatakan umat Islam akan terpecah dalam 73 golongan dan hanya 1 yang selamat. Siapa yang 1? Tentu semua akan merasa yang 1. Merasa, sekali lagi semua merasa benar.

Merasa benar dan merasa paling sempurna dalam perspektif KH Buya Syakur adalah tidak baik karena akan melahirkan anti kritik dan tidak belajar dari kemungkinan nilai-nilai kebenaran lainnya. Hal yang benar adalah “Benar Merasa” bukan merasa benar.

Benar Merasa adalah memperlakukan orang lain dengan benar sebagaimana kita ingin diperlakukan. Semua orang merasa benar dan semua orang akan mempertahankan kebenarannya. Hindari menghakimi, main hakim sendiri, main hakim keroyokan dan apalagi melakukan bom bunuh diri.

Menurut KH Buya Syakur dalam internal penganut Islam banyak sekalai terjadi konflik, bertengkar, permusuhan dan saling bantai itu terjadi di negara-negara Arab. Ia mengatakan hanya di Indonesia hidup rukun dan damai. Indonesia jauh lebih kondusif karena bukan negara agama tetapi negara yang mengakui agama dengan baik.

Semoga rakyat Indonesia terus lebih kondusif. Semoga kisah 11 April 2022 menjadi pembelajaran antara dua entitas merasa benar. Merasa paling benar harus diubah polanya dengan benar merasa. Setidaknya tugas para guru dalam pendidikan formal harus berjuang keras sejak dini.

Sekolah harus menjadi edukasi dini terkait pola hidup benar merasa bukan merasa paling benar yang bisa melahirkan radikalisme. Nadiem Makarim sangat cerdas dengan ikhtiar mengusung penghuni masa depan dengan mentalitas Pancasila. Profile Pelajar Pancasila tentu akan sangat baik kita ikhtiari, mulai dari pendidikan formal