Pewarta : Tim Liputan
Koran SINAR PAGI, Kab. Bandung,- Terpantau Tim Liputan KSP, beberapa pekan lalu, proyek LABORATORIUM SMPN 2 Ciwidey diduga tidak sesuai spek.
Di kesempatan tersebut, BR (nama samaran) mengutarakan pada Tim Liputan KSP, di kediamannya, “pondasi gedung tanpa di gali, bagaimana bisa kuat gedung tersebut, jika pondasi tidak ditanam/di gali, biasanya sebelum kegiatan dimulai terlebih dahulu pondasi di gali minimal 50 cm, ini kan tidak digali,” ujar BR
Keterangan Foto : nampak nol gedung
Selain pondasi tidak digali, papan proyekbaru muncul satu minggu setelah beberapa media mewawancarai para pekerja, karena pelaksana proyek tidak ada di tempat.
Selanjutnya Tim Liputan KSP mewawancara para pekerja, ditanya pelaksana orang mana, para pekerja, dijawab, “Bos kami dari Purwakarta, cuma tidak ada di sini, lebih baik bpk ke Purwarta saja,” tutur para pekerja.
Lebih lanjut Tim Liputan mewawancara para pekerja proyek rehab MCK SMPN 2 Ciwidey, ditanya sumber anggaran, besar anggaran, para pekerja menjawab tidak tahu, “silahkan hubungi bos kami di Sayati.
Lemahnya pengawasan atau unsur ke sengajaan tutup mata dan telinga dari dinas terkait. Empat Proyek SMPN 2 Ciwidey 3 MCK dan 1 Gedung Lab dikerjakan asal-asalan.
Di kesempatan yang sama Tim Liputan KSP mewawancara beberapa tokoh masyarakat Ciwidey, satu diantaranya BN (nama samaran), menurut BN para palaksana orang luar kab. Bandung, apakah orang Kab. Bandung tidak bisa mengerjakan proyek seperti begini?sangat disayangkan yang bayar pajak orang Kab. Bandung, sedangkan yang menikmati orang luar kab. Bandung, ini otonomi daerah, kalau pelaksana orang luar kab. Bandung tanggung jawabnya tidak seperti warga pribumi, kami mohon kepada Kepala Dinas pendidikan Kab. Bandung dikaji kembali kebijakannya,”tutur BN dengan nada kesal
Pada suatu kesempatan, saat Tim Liputan KSP berhasil menghubungi pihak pelaksana via tlp selulair dan meminta tanggapan mengenai pemberitaan proyek yang sedang dikerjakannya, bukan memberikan penjelasan malah mematikan tlpnya. Hal tersebut memperlihatkan sikap arogansi dari pelaksana proyek. Mungkin sikap seperti itu yang diharapkan oleh Pihak Dinas atau PPK yang ditunjukan oleh pelaksana kepada wartawan khususnya?













