OPINI/Artikel

Harga – Harga Naik, Kaum Ibu Menjerit

adminsigiku.com
×

Harga – Harga Naik, Kaum Ibu Menjerit

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ita (Ibu Rumah Tangga)

Ditengah ragam kesulitan ekonomi yang dialami rakyat, kenaikan BBM jenis pertalite telah berimbas secara langsung pada sejumlah harga pangan dan harga kebutuhan ataupun jasa. Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM sangatlah memberatkan kaum ibu yang berkeseharian mengatur rumah tangga dan agar dapur tetap ngebul.

Ratusan juta rakyat dari kalangan menengah kebawah sangat merasakan dampak dari kenaikan harga BBM ini. Tidak berbeda dari kaum ibu imbas ini pun terasa pada para pengguna roda dua, serta jutaan driver ojeg online beserta angkutan lainnya.

Masih tertatih pemulihan setelah virus corona yang menumbangkan banyak sektor usaha serta memicu gelombang phk besar besaran yang sudah tentu menjadikan rakyat tidak memiliki pekerjaan, semakin sulit menutupi kebutuhan hidup ditambah harga kebutuhan naik, akhirnya masyarakat semakin menjerit.

Lebih membingungkan kaum ibu khususnya, ditengah himpitan kesulitan, pemerintah berencana melanjutkan proyek insfratuktur.

Adapun bantuan yang diberikan tidak dapat mencukupi, dan belum bisa menyentuh kesejahteraan secara adil dan merata.

Dalam islam hasil bumi seperti minyak itu adalah milik rakyat yang dikelola oleh negara untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan rakyat. Tanpa melihat untung rugi. Meryjuk pada hadist Nabi saw, bahwa kaum Muslim berserikat memiliki hak yang sama dalam tiga perkara: air, padang rumput dan api. Karenanya tidak diperbolehkan penguasa untuk memberatkan rakyatnya. Seorang pemimpin ketika bertumpu pada islam harus memberikan akses milik umum ini kepada semua rakyatnya, baik miskin ataupun kaya. Dan kenaikan BBM ini wajib ditolak bahkan dicabut. Inilah alasan rasional mengapa negri ini harus kembali pada aturan Alloh SWT yang memberi kebaikan keberkahan bagi seluruh alam.

Tentu bangsa ini kiranya harus berani membuang apa saja penyebab kese ngsaraan rakyat terjadi. Tata aturan yang semakin berubah rubah membuat nasib rakyat tak menentu.
Walahu a’lam