Oleh : Ai Sumiati. (Ibu Rumah tangga dan Pemerhati Sosial)
Permasalahan di negeri tercinta ini seolah tidak pernah ada ujungnya. Masalah demi masalah terus bermunculan termasuk masalah para petani. Dimusim hujan seperti saat ini membuat sawah yang ditanami para petani karut-marut. Meski demikian para petani perempuan di desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih terus memanen padi.
Masing-masing dari mereka fokus untuk menyelesaikan tugasnya, meski raut wajah mereka tidak memancarkan senyuman orang yang akan mendapatkan hasil panen.
Dikutip dari sebuah media masa yg mewawancarai seorang petani setempat bernama Bu Eti Kusaeti(46) mengatakan, panen kali ini tidak segemilang tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal yang membuat petani setempat pesimis akan panen bulan ini.
Mulai dari kelangkaan pupuk subsidi hingga cuaca ekstrim dan hama yang datang tiba-tiba kemudian mengacaukan setiap mimpi dan harapan yang sudah ditanam. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan yang serba susah saat ini dan hanya bisa menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan saja.
Belum lagi persoalan penyempitan lahan yang kalah dengan pembangunan pabrik dan perumahan, menambah kuat para petani untuk berhenti meladang.
Beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya panen padi mulai dari cuaca ekstrim yang melanda Kabupaten Bandung dan sekitarnya yang mengakibatkan banjir yang meluap sampai ke ladang sawah, penyempitan lahan sampai pada kelangkaan pupuk subsidi semakin memperpanjang masalah yang dihadapi oleh para petani.
Bukan tanpa sebab semua permasalahan yg ada saat ini akibat dari penerapan sistem kapitalisme yang memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk menguasai lahan, sehingga bebas membangun bangunan yang sekalipun itu bisa mengakibatkan terjadinya banjir.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar Rum [30]:41, yang artinya;
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(ke jalan yang benar).”
Begitu pun dengan kelangkaan pupuk subsidi membuat para petani kelimpungan dan harus membeli pupuk yang tidak bersubsidi itupun harganya cukup mahal. Sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi saat ini ibarat mencari jarum didalam tumpukan jerami yang membuat para petani lelah.
Dalam sistem kapitalisme subsidi senantiasa diartikan sebagai bentuk “kebaikan” pemerintah kepada rakyatnya. Padahal jika merujuk pada peran dan fungsi dari pemerintah maka subsidi itu merupakan tanggung jawab atau kewajiban pemerintah. Pasalnya, pemerintah memiliki kewajiban untuk mengatur hajat hidup orang banyak, termasuk di antaranya dalam pengurusan subsidi. Pemerintah tidak boleh berlepas tangan atas pemenuhan hak pokok dari setiap warga negara. Semua itu tanggung jawab negara secara mutlak.
Inilah efek dari penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan penguasa hanya sebagai regulator yang membuat undang-undang yang melegalkan kapitalisasi dan liberalisasi demi kepentingan korporasi, sehingga para korporasi dengan seenaknya menaikan harga pupuk subsidi maupun dalam kepemilikan lahan. Dan yang sudah pasti rakyat kecillah yang akan terzalimi.
Sederet kasus yang menjadi keluh kesah para petani diatas pasti ada solusinya dalam Islam. Karena Islam adalah akidah aqliyah yang terpancar didalamnya aturan yang berasal dari sang Khaliq.
Islam mengatur kepemilikan, mana yang menjadi kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Sehingga individu tidak bebas dalam memiliki lahan yang itu milik umum. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.;
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu Padang rumput, air dan api” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Dengan diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan, insyaAllah tidak akan ada lagi yang terzalimi semua dalam porsinya masing-masing.
Wallahu’alam bishshawab
Dari : Sumiati










