Ragam

Terabaikan 1,6 Juta Guru

adminsigiku.com
×

Terabaikan 1,6 Juta Guru

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Dalam situs https://www.youtube.com/watch?v=XDHdYv9UadI sangat mencubit narasi terkait ketidakharmonisan PGRI dan Kemdikbud Ristek. Hal yang dipaparkan dalam situs ini menjelaskan adanya 1,6 juta guru terabaikan karena gencarnya penolakan PGRI pada RUU SISDIKNAS.

Dalam narasi situs ini seolah PGRI berpihak pada yang sudah dapat TPG tapi mengabaikan yang belum TPG. Ini menarik dan menjadi dinamika tersendiri didunia guru. Sebagai aktivis PGRI Saya termasuk tidak setuju dengan pemikiran pemikiran Unifah dalam memimpin PGRI.

PGRI secara organisatoris nampak menolak RUU SISDIKNAS, terutama pasal berkaitan TPG. Tidak semua keluarga besar PGRI menolak, sejumlah aktivis PGRI malah menyetujui rancangan RUU SISDIKNAS. Mengapa? Karena percaya pada pemerintah dan mendukung 1,6 juta guru non TPG dapat kesejahteraan lebih baik.

Kalau kita baca sejumlah komentar di situs di atas, ada sejumlah komentar yang bisa kita simak. Tulisan atau komentar tidak diedit sesuai adanya. Sesuai gaya tulisan dan komentar yang mereka sampaikan. Diantaranya adalah :

Ibu Sri Rahayu menuliskan “Saya guru sdh sertifikasi, saya sgt mendukung keputusan pak mentri, aku sangat berharap utk kesejahteraan teman temanku di seluruh Indonesia, saya sgt bisa merasakan karena saya pernah lama menjadi GTT di sekolah kecil di mana pada waktu itu belum ada kesejahteraan spt sekarang ini. Semoga usaha pak mentri untuk meningkatkan kesejahteraan kami para guru diridzoi Alloh SWT, aamiin x3”

Bapak Agustinus Hadi Sucipto menuliskan “Saya sebagai guru yang blm serdik mendukung perjuangan mas mentri ttg RUU sisdiknas, smg Tuhan mmberikan jalan yang mudah demi kesejahteraan guru yang blm sertifikasi. Amin”. Bapak Hendrik Iryanto menuliskan “Kami 1,6 juta mendukung pak mentri dan Ruu sisdiknas semoga cepat di sah kan”.

Ibu Nita Oktaluvia menuliskan “Smga Mas Mentri & seluruh jajarannya sllu diberi kemudahan & kelancaran dalam segala urusan,serta sllu diberi kesehatan…. Kami berdo’a dgn pengharapan penuh,bukakanlah pintu hati mereka yg menolak RUU Sisdiknas…. Kami sgt berharap,semoga RUU Sisdiknas segera direalisasikan….aamiin.”

Bapak Hid Maro menuliskan lebih keras, Ia menuliskan “Mantap pak guru saya setuju salam ke PGRI untuk membubarkan diri karena bikin bikin kisruh , ASN itu yg ngatur pemerintah ya bukan PGRI” Selanjutnya Bapak Jalaludin Galetro menuliskan “Padahal kami sangat berharap RUU ini segera disahkan agar Paud Non Formal mendapat pengakuan / menjadi lembaga Formal. Entahlah apa yang dikepala para pemangku PGRI sehingga menolak”.

Semua adalah dinamika perjuangan dan pemikiran. PGRI secara organisasi tentu berjuang untuk martabat guru. Walau tentu akan ada oknum-oknum yang bukan guru, tak pernah jadi guru (SD/SMP/SLTA sederajat) dan tak pernah menjadi pengurus dari daerah (ranting dan kecamatan) menclok di PGRI. Dapat dipastikan mereka pengurus yang tak mengerti kebatinan guru di lapangan.

Bila menjadi pengurus PGRI bukan berasal dari guru, tak pernah bersama-sama dengan guru di sekolahan, dapat dipastikan tak mengerti harapan dan kebatinan guru. Bagaimana bisa organisasi guru “tidak harmonis” dengan pemerintah (Kemdikbud Ristek). Sebagai ASN, aktivis PGRI dan Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, saatnya kolaborasi dan harmonisasi demi guru dikuatkan.