Moderasi Beragama, Jalan Tengah?

0

Oleh Mutiara Kahla Haura (Aktifis Remaja)

Hasil survei terhadap pelajar serta guru di kabupaten bandung kurang memiliki toleransi terhadap agama lain, diakibatkan dalam proses belajar mengajar kurang mengajarkan perbedaan agama dan toleransi.

“Masalah kerukunan umat beragama terbagi menjadi empat, pertama merasa paling benar, fanatisme berlebihan, polemik dalam pendirian rumah ibadah, serta adanya ujaran dan kebencian” “Untuk mengatasi hal ini agar tidak semakin berkembang moderasi beragama sebagai solusinya,” tegas Ace Hasan, anggota DPR RI dari dapil kabupaten Bandung dan kabupaten Bandung barat (KBB).

Masuknya moderasi beragama dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2020-2024 menteri agama menyebutkan bahwa penguatan moderasi beragama bisa menjadi solusi atas munculnya permasalahan sosial keagamaan, apakah moderasi beragama dapat mengeluarkan permasalahan?

Indonesia sebagai negara multikultural dan multiagama, ditantang untuk mengelola keragaman dan permasalahan sosial keagamaan. Konflik terjadi belakangan, ada beberapa orang yang memiliki pemikiran keagamaan eklusif dan ekstrem. Mereka mengklaim kebenaran hanya ada pada dirinya sendiri dan menyalahkan orang lain. Inilah yang menimbulkan ketenangan dan mengancam kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

” Untuk mengatasi permasalah ini, kementerian agama mengembangkan konsep moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang yang membawa orang ke jalan tengah, jauh dari jalan berlebihan atau ekstrem. Dengan adanya moderasi beragama, cara beragama masyarakat menjadi toleran, tanpa kekerasan, menghargai budaya, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat” cap menteri agama.

Pemerintah kerap mengklaim bahwa ekstrimisme sebagai masalah bangsa yang penting berbagai program dirancang demi memerangi ekstrimisme padahal definisi tentang ekstrimisme berasal dari satu sumber saja yaitu doktrin barat, Mereka melancarkan strategi adu domba dengan cara membagi bagi umat Islam dalam 4 kelompok yakni Islam moderat atau toleran, Islam radikal atau fundamental atau ekstrim, Islam sekuler dan Islam tradisional. Alhasil ekstrimisme merupakan stigma barat terhadap Islam, sementara masalah negeri yang Hakiki saat ini adalah di kelolanya sumber daya alam yang melimpah oleh asing, korupsi marak di semua Lini politik yang menjadi tradisi dan moral bangsa terus terdegradasi, kualitas pendidikan tidak mumpuni, kriminalitas semakin marak, mengerikan angka perceraian tinggi dan kekerasan terhadap perempuan terus terjadi.

Atas karut marut ini umat Islam justru diajak melakukan moderasi dalam rangka memerangi ekstrimisme sementara tabiatnya moderasi itu sendiri adalah bersikap ramah, termasuk ramah terhadap korporasi asing yang telah mencabut sumber daya alam negeri ini. karena itu persoalan utamanya adalah kesalahan pemerintah membaca problem utama bangsa ini yang menuduh ekstrimisme dan radikalisme beragama sebagai sumbernya, sekalipun terjadi aksi ekstrimisme dan radikalisme fakta-fakta itu nyatanya hanyalah satu cabang dari masalah besar berupa penerapan sistem sekular kapitalisme sistem yang jelas-jelas telah memproduksi berbagai aspek kehidupan, sistem ini juga yang telah mengklaim bahwa Islam politik dan Islam ideologis sebagai pemicu munculnya aktivitas ekstrimisme dan radikalisme yang kemudian diopinikan sebagai sumber utama persoalan bangsa hingga harus menjadi korban proyek moderasi beragama.

Maklum bangkitnya gagasan Islam politik atau Islam ideologis yang memfasilitasi solusi Islam atas keterpurukan dunia, nyatanya telah menjadi lonceng kematian bagi hegemoni kapitalisme global. Islam politik memang satu satunya ideologi yang mampu mengantarkan manusia ke puncak kemajuan dan kesejahteraan terbukti berabad-abad lamanya. Bahkan kebaikan dan keunggulan sistem Islam dirasakan oleh orang non-muslim hingga mereka merasa lebih aman hidup dibawah naungan Islam lebih dari itu kesadaran kaum muslim akan kewajiban mereka menerapkan hanya menerapkan Islam semata dalam institusi negara Khilafah yang merupakan ancaman bagi eksistensi kapitalisme dan imperialisme barat dari sinilah dapat dipahami bahwa moderasi Islam yang digagas negara kafir imperialis diusung penguasa dan dijajakan oleh Begundal Begundal nya sejatinya ditujukan untuk mempertahankan eksistensi kapitalisme-liberalisme dan penjajahan mereka atas dunia Islam.

Secara faktual Islam dan politik tidak bisa dipisahkan bahkan politik merupakan salah satu bentuk pengamalan ajaran Islam yang didasarkan pada akidah Islam politik, Islam ditujukan untuk melaksanakan politik Islam di dalam negeri. Karna hakekatnya politik Islam adalah pengurusan urusan umat berdasarkan kebenaran dan keadilan Aqidah Islam yang mendorong kaum muslim memiliki perhatian terhadap dunia menyebarkan petunjuk dan mengatur dunia dengan hukum hukum syariah inilah konsep politik yang sesungguhnya yakni mengatur seluruh urusan manusia.

Sebab syariah Islam hakekatnya merupakan aturan dan hukum untuk memberikan solusi terbaik terhadap seluruh aspek kehidupan manusia penerapan Islam politik yang menerapkan sistem politik berbasis Syariah sehingga tidak akan ada pelalaian akan rakyat, negara akan memastikan jaminan kesejahteraan bagi semua rakyatnya sehingga tidak akan adanya terjadi perpecahan, kriminalisasi, maupun kekerasan massal akibat gaya hidup individual kapitalistik yang hanya menguntungkan asing dan pemerintah Islam juga akan mengembalikan kekayaan alam bagi kemaslahatan rakyat menghapus tuntas korupsi dari akarnya mewujudkan politik yang bersih dan menutup peluang korupsi juga mengukuhkan bangunan keluarga menyediakan pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas serta melindungi kemuliaan kaum perempuan dengan ditegakkan nya ideologi Islamiyyah.0