Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Harus disadari semua pihak bahwa kemerdekaan NKRI diantaranya adalah buah perjuangan para guru dan pelajar. Sejumlah guru sekaliber HOS Tjokroaminoto dan sejumlah anak didik sekaliber Sukarno-Hatta adalah penggerak perubahan.
Guru dan anak didik adalah penggerak perubahan. Guru dan anak didik adalah realitas zigot yang puluhan tahun kemudian akan melahirkan sebuah perubahan luar biasa. Tanpa guru dan sekolahan tidak ada kemerdekaan NKRI.
Ilmu Barat hanya bisa dikalahkan dengan mempelajari ilmu Barat. Organisasi hanya bisa dikalahkan dengan organisasi. Sebuah isme atau paham, hanya bisa dikalahkan oleh isme atau paham lagi.
Paham imperialisme hanya bisa dikalahkan dengan paham nasionalisme. Bahkan mengapa pernah ada paham islamisme dan komunisme di Indonesia ? Ini sebuah bentuk perlawan pada paham imperialisme.
Kemerdekaan bangsa hanya bisa dikalahkan dengan memerdekakan bangsa. Berawal dari “Merdeka Belajar” entitas Bumi Putera, yang awalnya tak bisa belajar formal, buah politik etis.
Conrad Theodore van Deventer yang populer disebut Van de Venter berjasa dalam melahirkan entitas Bumi Putera yang mulai merdeka belajar. Asbab hadirnya “Merdeka Balajar” sejumlah anak pribumi mulai berilmu.
Asbab berilmu, dimulai kaum pelajar, maka gerakan kebangsaan lahir. Bangsa kolonialis imperialis Belanda hanya bisa dikalahkan oleh bangsa nasionalis pembelajar bernama Bangsa Indonesia.
Kebangsaan tidak bisa dikalahkan oleh kedaerahan. Imperialisme tak bisa dikalahkan oleh primordialisme. Semua upaya kemenangan dan gerakan kebangsaan itu terlahir dan dimulai saat “Merdeka Belajar” hadir bagi bumi putera.
Nah saat ini perlu sebuah intervensi baru dalam bentuk yang real dalam menghadapi tantangan masa depan. Intervensi itu kembali pada hal besar dan mendasar yakni terkait entitas strategis pelajar dan guru.
Pelajar dan guru perlu suasana dan iklim yang merdeka di mana mereka berada. Dimana mereka berada ? Tiada lain adalah di sekolahan. Sekolahan adalah taman belajar. Perlu efisode “Sekolah Merdeka”.
Sekolah Merdeka adalah sebuah realitas sehat dan menyenangkan dalam internal civitas akademika. Civitas akademika harus merdeka, clear dari berbagai intervensi dan politisasi, bahkan dari radikalisme, intoleransi dan perundungan.
Eiosde Sekolah Merdeka adalah sebuah idealitas yang harus terimplementasi dalam eksosistem pendidikan satuan pendidikan. Sekolah harus menjadi learning community bukan intervensi community, banyak yang intervensi.
Sekolah Merdeka adalah sebuah kemerdekaan bagi warga civitas akademika untuk mengembangkan sekolahnya secara merdeka (MBS) murni. Sekolah bebas merdeka untuk membuat visi dan misi berdasar potensi internal dan unikasinya.
Sekolah Merdeka tidak eksploitatif pada anak didik dan orangtua. Sekolah Merdeka sifatnya eksploratif pada potensi internal anak didik, orangtua dan pihak lainnya yang kontributif pada kebaikan masa depan anak didik.
Sekolah Merdeka lebih mengemuka pemberdayaan Komite Sekolah dan pemerintah terkait dalam mengembangkan prestasi sekolah. Sekolah Merdeka zero dari segala intervensi pihak ekternal yang aromanya modus dan bulus.
Sekolah adalah miniatur sebuah bangsa. Merdeka Sekolahnya, merdeka masa depan bangsanya. Sekolahnya terganggu, tak merdeka, maka masa depan bangsa pun akan terganggu dan tak merdeka.
Politisasi, intervensi, ekspansi dan modusisasi sejumlah pihak eksternal pada internal sekolahan, segera hentikan. Kecuali orang yang tidak pernah sekolah dan tak pernah punya guru sebagai orangtua.
Hanya Malin Kundang yang tak menghargai Ibu Kandung sebagai almamater. Sekolah adalah Ibu Kandung semua manusia yang pernah belajar di dalamnya. Stop intervensi modus pada Ibu Kandung kita.
Sekolah Merdeka versi Hema Hujaemah (kolumnis dan kepala sekolah berprestasi Kota Sukabumi) adalah sekolah yang sudah tidak ngutang, menunggu BOSP/BOPD cair. GTKnya lengkap dan sarprasnya sesuai standar.
Merdeka sebuah bangsa dimulai dari Merdeka Sekolah. Warga negara paling istimewa di semua bangsa adalah anak didik. Warga negara paling istimewa itu (anak didik) adanya di sekolahan. Sekolah itu sakral dan strategis.
GTK dan kepala sekolah adalah bidan yang sedang menangani lahirnya seorang anak didik berkarakter. Jangan mengganggu entitas yang sedang fokus membidani lahirnya masa depan bangsa. Allah pasti tidak ridha. Waspadalah semua pihak!










