OPINI/Artikel

Bukan Lautan, Hanya Kolam Retensi

adminsigiku.com
×

Bukan Lautan, Hanya Kolam Retensi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Heny Ruslaeni (Ibu Rumah Tangga)

Pembangunan kolam retensi ini merupakan bagian dari master plan (pembangunan jangka panjang) di Kabupaten Bandung untuk mencegah banjir. Cara yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR), salahsatunya dengan membangun kolam retensi.

Ketua DPRD Kota Bandung H. Tedy Rusmawan, A. T. M. M mengapresiasikan akan hadirnya kolam retensi di tiga wilayah Kabupaten Bandung. Seperti Citarum Harum, dan Cieuteung. Dengan di bangun kolam retensi ini bertujuan untuk penanggulangan banjir dikawasan Bandung Selatan seperti Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang.

Selain, untuk penanganan banjir kolam retensi ini juga bertujuan untuk jaringan irigasi persawahan, guna dibangunnya kolam retensi ini banyak multipliter effect dalam meningkatkan perekonomian di sekitarnya.

Setali tiga uang,kolam retensi awalnya dirancang sebagai penanggulangan banjir kini disuguhkan sebagai transformasi menarik sebagai tempat olahraga,memancing dan juga sebagai tempat rekreasi yang menawan dan tempat untuk menyejukan pikiran bagi warga sekitar.

Hadirnya kolam retensi selain untuk mencegah banjir diwilayahnya supaya tidak berlangsung lama, sehingga banjir pun menjadi cepat surut. Kolam retensi ini menghabiskan anggaran senilai 142 miliar rupiah fantastis sekali dalam membangu infrastruktur tersebut.

Ini telah membuktikan, bahwa pengelolaan sumber daya air dapat berdampak positif secara berkelanjutan. Dan peran kolam retensi ini juga sebagai infrastruktur adaptif.

Tentunya jika kita perhatikan penyebab terjadinya banjir, dapat dilihat bahwa bencana banjir itu tidak hanya terjadi karena faktor alam saja, melainkan bisa juga disebabkan akibat ulah tangan manusia sendiri.

Karena Suatu kejadian ini berawal karena adanya sebab akibat, maka apa yang sudah dilakukan manusia, akan ada pula dampak yang harus dihadapi, akibat buruknya kesadaran manusia dalam membuang sampah sembarangan tentunya akan berdampak banjir. Wilayah yang biasanya tidak kebanjiran, menjadi terkena banjir.

Meluasnya banjir justru menunjukan gurita kapitalisme semakin mencengkram, lagi- lagi menambah daftar ke brokbrokan sekuler-kapitalisme karena setiap yang di upayakan tidak memberikan manfaat, asal- asalan dan tidak serius.

Sejatinya, dunia ini butuh sistem Islam yang dapat mengatur seluruh aspek kehidupan. Hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan membuat manusia tidak menyadari bahwa kewajiban mereka bukan hanya saja seperti sholat, puasa dan zakat saja. Akan tetapi ada kewajiban lainnya yang harus dilakukan. Islam lahir dari keimanan dan ketaatan pada zat pencipta dan pemelihara seluruh alam, penguasa dalam Islam betul- betul berperan sebagai pengurus dan penjaga umat saat syariat Islam diterapkan secara keseluruhan, pemimpin dalam Islam niatnya karena Allah Swt, bukan karena materi atau sebagai pencitraan dan pujian saja. Wajar jika bencana banjir datang, justru memberi hikmah yang banyak, terutama membuat umat manusia makin dekat kepada Allah Swt bukan malah menambah jauh umat manusia pada syariat Rabbnya. Islam punya segudang aturan untuk kelangsungan hidup, di sistem Islam yang akan berpikir keras bagaimana agar kerusakan atau bencana banjir tidak terulang terjadi.

Wallahualam bissawab