Oleh : Ai Sumiati (Ibu Rumah Tangga)
Pasca bencana angin puting beliung yang terjadi di tiga Kecamatan di Kabupaten Bandung menyisakan kesedihan bagi korban. Rasa takut akan terjadi pun bisa jadi terbersit dalam benak mereka terlebih saat ini masih pada puncak musim hujan.
Dikutip dari AYOBANDUNG.COM, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengimbau masyarakat tetap waspada pasca terjangan angin puting beliung yang merusak setidaknya 16 rumah di Kabupaten Bandung pada Sabtu, 24 Februari 2024.
Hadi Rahmat sebagai Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jabar mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terkait dampak dari angin puting beliung tersebut. Untuk itu, Hadi meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin puting beliung mengingat saat ini masih puncak musim hujan. Hadi pun meminta masyarakat untuk jeli dalam mencari tempat perlindungan saat cuaca ekstrem. Ia kembali mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap tenang meski saat ini banyak terjadi bencana alam.
Bencana memang dapat terjadi kapan saja. Entah itu sudah kehendak Allah SWT (sunatullah) atau karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Bencana angin puting beliung sebagai akibat dari peristiwa hidrometeorologi meningkat intensitas kejadiannya pada masa peralihan musim. Ancaman angin puting beliung sulit diprediksi karena merupakan fenomena atmosfer lokal. Bencana yang kerap terjadi di Indonesia banyak sekali seperti ketika musim hujan datang banjir. Musim kemarau panjang terjadi kebakaran hutan.
Selain kehendak Allah SWT, bencana yang kerap terjadi disebabkan lemahnya mitigasi bencana yang seharusnya dikolaborasikan dengan masyarakat secara aktif. Edukasi dan himbauan kepada masyarakat memang diperlukan agar masyarakat mempunyai kesadaran akan bahaya yang diakibatkan bencana angin puting beliung tersebut. Selain memberikan kesadaran kepada masyarakat pemerintah juga seharusnya menyediakan alat yang bisa mendeteksi bencana agar bencana bisa dicegah. Tetapi sayang, pemerintah tidak mempunyai anggaran dana yang cukup untuk kesiapsiagaan ini.
Kurangnya perhatian pemerintah dalam memitigasi bencana, ini sebagai bukti lemahnya pemerintah dalam periayahannya dalam keamanan rakyatnya. Himbauan yang dilakukan sebenarnya belum cukup dalam mengatasi bencana ini. Harus ada tindakan yang nyata dalam mengatasi bencana dengan menyediakan alat untuk mendeteksi dini bencana. Selain itu yang perlu disadari baik oleh masyarakat maupun negara adalah kesadaran bahwa bencana yang datang terus menerus diakibatkan tidak diterapkannya syariah Islam didalam kehidupan baik individu, masyarakat maupun negara. Terlebih negara, karena negara bertanggung jawab atas rakyatnya.
Sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan saat ini yakni memisahkan agama dari kehidupan. Akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme tersebut bukan hanya berdampak pada rusaknya alam yang mengakibatkan bencana alam, tetapi juga rusaknya tatanan kehidupan manusia. Kehidupan yang rusak ini diakibatkan karena pemimpin tidak menerapkan syariah Islam sehingga wajar kalau Allah SWT memberikan peringatan dengan berbagai bencana.
Imam Al Haramain (w. 478 H) menceritakan, bahwa pada masa Umar ra. pernah terjadi gempa bumi. Khalifah Umar segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, saat itu bumi sedang berguncang keras, Khalifah ra. lalu memukul bumi dengan cambuk sambil berkata; “Tenanglah engkau, bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”, seketika bumi pun berhenti berguncang.
Imam Al Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi, sebabnya Khalifah Umar adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin. Beliau adalah Khalifah Allah SWT bagi bumi dan penduduknya. Alhasil, keadilan Umar sebagai Khalifah Allah SWT di muka bumi sanggup bersahabat dengan manusia. Sebaliknya, kezaliman penguasa bisa menyebabkan bumi berguncang.
Maka dari itu bersegera menerapkan syariah-Nya adalah kewajiban seluruh kaum Muslim terutama penguasa agar bencana tidak terus terulang tidak cukup dengan sekedar himbauan saja. Wallahu’alam bishshawab.











