Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam Tiktok yang tersebar saat ini, pra pelantikan Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai Gubernur Jawa Barat. Ada sejumlah pesan yang harus dimaknai dan dipahami oleh entitas GTK di Jawa Barat, khususnya.
Apa pesan itu? Setidaknya pesan substantif KDM adalah sebagai berikut : Pertama, guru dan kepala sekolah harus diberi jarak dirinya dengan urusan uang. Martabat guru dan kepala sekolah akan baik dan berwibawa bila tidak ada kaitan keuangan.
KDM mengatakan, “Seluruh pengelolaan keuangan diserahkan sepenuhnya kepada tim administrasi di setiap sekolah, kami akan melakukan pendampingan adminstrasi, keuangan BOS tidak dikelola oleh kepala sekolah”.
Seorang kepala sekolah faktanya terbebani oleh adanya BOS. Guru dan kepala sekolah sebagai pendidik dan pemimpin pembelajaran fokus dan lokusnya lebih kepada layanan pembelajaran. Mengurus anak didik adalah utama, bukan mengurus keuangan.
Kedua, guru tidak boleh waktunya habis oleh hal yang terlalu administratif. Tugas guru yang utama melekat pada layanan mendidik dan mengajar. Sibuk guru bukan buat laporan administratif melainkan sibuk dilapangan, di ruang kelas melayani anak didik.
KDM pun mengatakan GTK (guru dan kepala sekolah) saat berada di sekolah hanya bermedsos ladik (layanan pendidikan) saja. Tidak ada joged joged atau giat yang tak berhubungan dengan edukasi dan karakter. Guru fokus kebutuhan anak didik.
Ketiga, stop segala hal, kegiatan yang dilihat publik lebih kepada transaksional. Stop penjualan buku, LKS, seragam, study tour, renang dan giat apa pun yang berkaitan dengan pungutan. Pungutan dan segala hal yang dianggap publik transaksional.
Sakralitas, martabat dan wibawa sekolah dan GTKnya akan tergerus oleh suudhon publik bila ada bau bau transaksional dan pungutan. Apa pun yang berbau uang akan dipersepsi “bau” oleh publik. Apalagi pihak eksternal yang kerjaannya intimidatif eksploitatif pada sekolahan.
Lalat, akan melayang layang mengendus bau sesuatu. Semut akan berbaris “langganan” menuju sekolahan bila ada aroma manis manis gula. Ada gula ada semut, ada lalat ada bau. Cuka dan wangi tak mengundang semut dan lalat.
Tiga hal di atas, saya coba rangkum dari upaya KDM sebagai calon gubernur terpilih untuk menciptakan “imunitas” dan memberi penguatan martabat guru, kepala sekolah dan sekolahan. Tulisan ini hanya tafsir subjektif penulis dari rencana calon gubernur baru yang akan menertibkan dunia pendidikan.
Lebih subjektif lagi kalau penulis katakan, “Bisakah KDM memberi penguatan lain terkait “energi” keluarga guru, setidaknya untuk jenjang SLTA seperti di Provinsi Banten dan DKI Jakarta?”. Hamdallah DKI Jakarta dan Banten “energi” bulanan guru lebih baik.
KDM akan menjadi “pahlawan” dimata guru bila signifikan ada peningkatan “energi” bagi keluarga guru mendekati Banten dan DKI Jakarta. Saya meyakini KDM bisa! KDM harus mampu “mengalahkan” Banten. Jabar pasti lebih istimewa.











