Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Banyak ulama dan penceramah yang mengatakan “Hanya Allah yang tahu sholat dan puasa kita diterima atau tidak”. Pernyataan ini sangat mainstream. Benarkah hanya Allah yang tahu?
Jawabannya tidak 100 persen benar. Mengapa? Karena kita pun akan tahu bahwa sholat dan puasa kita diterima oleh Allah yang maha menerima. Kita, bahkan orang lain akan tahu.
Apa indikasinya bahwa Allah menerima sholat dan puasa kita? KH Syaiful Karim menegaskan bahwa sholat dan puasa kita diterima lihat akhlaknya.
Bila akhlak kita terus membaik, ini indikasi sholat dan puasa kita diterima. Sholat dan puasa yang diterima Allah, tersambung dengan akhlak meningkat lebih mulia.
Sholat dan puasa rutin, mainsteream sebagai ritual tak tertinggal, bagi Abu Marlo belum prestasi. Prestasi kita bukan dari ritual sholat dan puasa. Lantas dari mana indikasi prestasi kita?
Abu Marlo mengatakan bila sejak seholat Duhur menuju sholat Ashar, akhlak kita meningkat, fungsional, produktif, itu tanda sholat kita diterima.
Begitu pun puasa kita. Puasa kita menjadi mabrur, diterima bila pasca Ramadhan kita terus membaik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Prestasi manusia bukan di ritual melainkan di aktualisasi diri menerjemahkan pesan spiritual dan esensialnya. Hidup berbasis kesadaran bukan halu yang mem_vibrasikan cinta kasih setiap saat pada sesama dan semesta.
Entitas manusia halu umumnya berimajinasi “bagaimana nanti disana”. Manusia sadar umumnya berkata, berpikir dan bertindak fungsional saat ini, dimana pun Ia berada.
Urusan “nanti” adalah pasti. Pasti akan ada episode nanti. Urusan saat ini, hari ini, sekarang, adalah urusan yang tidak pasti. Pastikan saat ini, hari ini, sekarang menjadi saat terbaik.
Orang yang memuja masa lalu, dan berimajinasi masa nanti. Hakekatnya Ia tidak hadir atau salah hadir di masa kini. Itulah halu. Masyarakat halu adalah masyarakat yang gagal hadir dan malfungsi.
Sholat dan puasa hari ini adalah untuk kebaikan hidup hari ini, saat ini, sekarang. Urusan nanti, adalah urusan pasti. Abaikan yang pasti, pastikan yang tak pasti.
Kalau setiap hari kita membaik lahir batin, maka inilah kepastian. Kepastian ini akan berkelindan dengan masa lalu dan masa depan.
Apa yang terjadi saat ini akan menjadi masa lalu dan masa depan. Pastikan kita bukan pribadi imajinatif nanti, melainkan implementatif fungsional dalam ridha_Nya, saat ini, hari ini, sekarang.











