Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ulama muda Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam berbagai ceramahnya selalu menekankan pentingnya mengutamakan kehidupan akhirat di atas segala hal.
UAH mengingatkan bahwa jika seseorang mengejar akhirat, maka dunia akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika yang dikejar adalah dunia, maka akhirat akan menjauh.
UAH mengajak umat Islam untuk lebih fokus pada kehidupan yang abadi di akhirat daripada mengejar kenikmatan dunia yang fana.
Menurutnya, dunia hanyalah persinggahan sementara yang tidak layak untuk dikejar dengan penuh ambisi, sedangkan akhirat adalah tujuan utama setiap muslim.
UAH mengatakan, “Rezeki itu sudah diatur, tidak perlu khawatir. Yang perlu kita kejar adalah surga, karena itu yang belum pasti.”
Sosok UAH adalah pembelajar luar biasa dan sudah menunjukan diri sebagai jajaran ulama muda terbaik di negeri ini. Walau tentu saja, semua manusia, semua ustadz punya kekurangan dan kelemahan sebagai manusia.
Manusia adalah makhluk penafsir, makhluk interpretatif. Kitab suci, kisah kisah para nabi dan kisah akherat pun tak bisa lepas dari tafsir manusia. Manusia punya sudut pandang tersendiri, sesuai kapasitas dan sudut pandangnya.
Berikut tulisan yang saya narasikan dengan sudut pandang berbeda dari UAH. Berbeda adalah proses belajar, selama niatnya Lillah dan positif.
Pertama UAH mengatakan pentingnya mengutamakan kehidupan akhirat. Bagi saya yang harus diutamakan justru kehidupan dunia. Dari kehidupan dunia dengan akhlak terbaik, maka akhirat tidak usah dipikirkan. Akhirat adalah lanjutan, bukan fokus.
UAH mengatakan akhirat adalah tujuan utama. Hal ini nampak seperti benar. Padahal tujuan utama Allah menciptakan kita agar fungsional dan bermanfaat di dunia, bukan di akhirat.
Kalau kita sadar, hal yang tak pasti adalah kehidupan di dunia. Kita harus memastikan, fokus dan lebih serius tentang kehidupan di dunia. Mengapa? Karena nasib kita, akhlak dan amalan kita adalah utama.
Akhirat itu pasti. Sepasti kita akan mati. Jangan fokus pada yang pasti karena pasti. Fokuslah pada yang belum pasti agar kita mendapatkan kepastian lebih baik. Mati itu pasti. Akhirat itu pasti. Sementara bagaimana kita hidup di dunia tidaklah pasti.
Pastikan hidup kita di dunia berakhlak mulia. Pastikan kita bermanfaat pada sesama dan semesta dalam ridha_Nya. Biarkan akhirat urusan Allah, karena mati dan akhirat itu sudah pasti adanya. Sementara keadaan dan keberadaan kita di dunia tidak pasti.
Ketidakpastian hidup kita di dunia mewajibkan kita kita beragama, berkitab suci dan berbuat suci/berakhlak mulia. Urusan akhirat tidak usah di kejar karena pasti. Hal terbaik adalah kejarlah dunia dengan akhlak terbaik dalam ridha_Nya.
UAH mengajak umat mengejar Surga. Padahal yang harus kita kejar bukanlah Surga. Melainkan “mengejar” akhlak dalam ridha_Nya. Surga tentu tidak lebih penting dari akhlak dalam ridha_Nya.
Kelemahan umat manusia, semua umat beragama adalah fokus dan mengejar akhirat yang pasti. Padahal yang harus diusahakan dan dikejar adalah hal yang tak pasti. Mengejar yang pasti adalah aneh. Kejarlah yang tak pasti.
Pastikan hidup di dunia penuh dengan kebaikan, akhlak mulia dalam ridha_Nya. Urusan akhirat biarlah Tuhan yang urus, buah dari fokus dan kualitas hidup di dunia. Pastikan kita “mengejar” kebaikan dunia dalam ridha_Nya, abaikan akhirat.
Hidup ibarat bayangan dan cermin. Bentuk bayangan ditentukan oleh diri kita sendiri. Penampakan di cermin ditentukan oleh penampakan kita sendiri. Akhirat adalah cermin dan bayangan. Jangan fokus pada cermin dan bayangan.
Fokuslah pada diri kita sendiri, meniti ke dalam diri, sadar dan terkoneksi selalu dengan_Nya. KH Syaiful Karim mengatakan “Qolbun mukmin, baitullah”. Allah itu adanya di qolbu kita. Kita dan Allah adalah utama, dunia dan akhirat adalah bayangannya.
Akhirat, Surga dan apa pun selain Allah adalah makhluk. Kejarlah ridha_Nya saat kita di dunia. Itulah inti dan esensi kehidupan. Mengapa para nabi di utus? Tiada lain agar kita berakhlak mulia di dunia, bukan berakhlak mulia di akhirat.
Para nabi diutus bukan untuk mengejar Surga atau mengejar akhirat dan kematian yang sudah pasti. Para nabi diutus untuk memperbaiki akhlak manusia di dunia, bukan di akhirat.
Bagi orang yang sangat bersyukur dunia ini adalah “Surga” ridha_Nya. Kita diberi kesempatan hidup di dunia, sebuah Surga nyata. Kalau kita tidak dihidupkan maka kita tidak mungkin hidup di dunia dan di akhirat. Asbab dunia, akhirat ada.
Benia bukan segala galanya, karena segala galanya adalah Dia yang maha ada. Namun tanpa hidup di dunia, akhirat kita tidak ada. Akhirat ada karena ada dunia. Pastikan dunia yang tidak pasti dengan akhlak terbaik dalam ridha_Nya. Abaikan akhirat karena pasti dan hanya cermin dari akhlak kita.
