Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Doa MacAthur bagi anaknya sangat terkenal. Ia berdoa pada Tuhan dengan doa yang tak umum. Umumnya orangtua berdoa yang baik baik saja. Ya Allah, lancarkan, mudahkan, sukseskan dan bahagiakan. Demikian doa kita yang mainstream.
Bagaimana dengan doa berikut dari MacAthur, kita simak. “Tuhan, sebagai ayah, aku berdoa kepada-Mu. Jangan memberikan kelancaran kepada anakku. Jangan memberikan hidup yang terlalu mudah kepada anakku”.
“Tetapi saya mohon, karuniakanlah dia jalan yang penuh dengan duri, ombak yang cukup besar dan kesulitan-kesulitan yang sengit, supaya dia berniat untuk berjuang”.
“Berikanlah dia angin topan dan ombak yang besar, sehingga ditengah-tengah angin topan dan ombak yang besar, bukan saja ia tidak jatuh tenggelam, melainkan dapat berdiri tegak, bahkan dapat menyelamatkan mereka yang sedang tenggelam”.
Nampaknya doa MacAthur pada anaknya, bisa juga lahir dari doa Jokowi pada Gibran sebagai anaknya. Bukankah hinaan dan cacian yang ditujukan pada Gibran sampai saat ini masih terus berlanjut?
Termasuk desakan Forum Purnawirawan Prajurit TNI yang menuntut pemakzulan Gibran Rakabuming Raka dari jabatannya sebagai wakil presiden. Adalah sebuah upaya sekelompok orang yang cinta NKRI dan para mantan jenderal.
Walau pun mereka versi Hercules sudah bau tanah, tapi mereka adalah “orangtua” yang sudah berjasa pada negara dan bangsa. Artinya aspirasi mereka harus dihargai dan menjadi masukan bagi pemerintah.
Terlepas apa pun, siapa pun, pro kontra. Bagi Gibran semuanya adalah “ombak” bagi dirinya yang akan terus membuatnya berlayar mengarungi samudera politik kehidupan. Angin dan ombak adalah stimulan positif bagi para petarung kehidupan.
Bukankah Kang Dedi Mulyadi (KDM) pun terus dihantam ombak prokontra? Ombak prokon adalah ombak positif bagi sejumlah orang hebat. Tanpa ombak, laut jadi tak menarik, perahu malas berlabuh. Tanpa angin, layang layang pun malas terbang.
Hanya Jan Etes yang masih aman aman saja dari ombak sosial politik. Ungkapan bijak mengatakan “Lawan tak pernah benar, kawan tak pernah salah”. Semua manusia adalah modus, sesuai kepentingan, bukan sesuai iman dan agamanya.











