Pewarta : Arief
Kota Sukabumi – Kasus Kepala SMAN I Cimarga, Lebak Banten yang diduga menempeleng siswanya karena kedapatan merokok dilingkungan sekolah pada jam pelajaran, yang kemudian dilaporkan ke pihak Kepolisian oleh orangtua murid, dan bahkan menurut kabar, kepala sekolah tersebut dinonaktifkan oleh Gubernur Banten.
Pro – kontra terhadap tindakan kepala sekolah pun muncul dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang menilai tindakan tersebut tak pantas dilakukan oleh seorang pendidik kepada anak didiknya, namun tak sedikit pula yang mendukung tindakan sang kepala sekolah, untuk menerapkan kedisiplinan dilingkungan sekolah.
Seperti diungkapkan Ketua Umum DPP AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia), Dudung Nurullah Koswara, menurutnya, tindakan tersebut dilakukan oleh Sang Ibu Kepala Sekolah yang tengah berusaha menegakan disiplinitas di area sekolah.
Kalau kemudian ada tindakan dari pemerintah dengan menonaktifkan kepala sekolah, lanjutnya, hal itu identik dengan “membolehkan” anak – anak untuk melakukan pelanggaran aturan termasuk merokok di sekolah.
Sebagai pendidik dan pengurus organisasi Kepala Sekolah Indonesia, Dudung menyebut bahwa kasus ini harus direspon dengan bijak.
“Pendidik, termasuk kepala sekolah bila melontarkan kata – kata atau sentuhan fisik terukur adalah wajar bila dalam koridor mendidik,” ucapnya.
Ia meminta, pemerintah daerah, orangtua, dan pihak lainnya tidak berlebihan menilai kasus ini, kecuali bila Sang Pendidik melakukan tindakan diluar koridor mendidik dan ada dendam pribadi, hingga tindakannya bisa melukai anak didik.
Dikatakan, bahwa Dunia Pendidikan akan menjadi lemah dan masa depan suram bila sedikit – sedikit melaporkan pendidik.
“Kalau tidak percaya pada guru dan sekolahan, lebih baik homeschooling. Anak bahkan “wajib” mengalami ujian disiplinitas agar dia kuat dan tahan banting, adversity quotient, resiliensi, sedikit tekanan bagi sejumlah anak didik dalam hal tertentu dan terukur, wajib diberikan agar Ia teruji, mandiri, kuat dan siap menjadi petarung di masa depan. Generasi rebahan, anak mamah, anak main lapor adalah generasi lembek yang akan jadi mangsa bangsa lain di kemudian hari,” tuturnya.
Ia mengajak para kepala sekolah, guru, orangtua dan pemerintah untuk seirama berkolaborasi dalam menciptakan generasi tangguh, kuat, tidak manja dan melambai.
“Pastikan orangtua dan sekolahan seirama, mari ciptakan anak – anak tangguh dan disiplin, bukan sebaliknya,” tandas DNK.













