Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Manusia adalah makhluk budaya dan berkebudayaan. Asbab pikiran dan perasaannya Ia menangkap vibrasi dari Tuhan dan alam semesta. Pikiran/akal dan perasaan manusia adalah realitas potensial namun tetap subjektif dan situasional.
Kapasitas intelektual, kesadaran dan pengalaman setiap manusia akan berimplikasi pada simpulan tafsirnya. Termasuk para nabi, Ia tetap manusia. Ia punya kekuarangan yang selalu berharap “mendapat” bimbingan dari Tuhannya.
Para nabi pun mendapatkan teguran dari Tuhannya. Mengapa? Karena mereka pun manusia yang punya kekurangan atas tafsir dan membaca vibrasi Tuhan dan semesta_Nya. Hal terpenting adalah belajar dan tetap belajar.
Belajar dan belajar adalah tugas manusia sebagai makhluk budaya. Hanya Tuhan yang tak belajar dan maha pemilik kebenaran absolut. Manusia, sekali pun nabi, Ia tetap manusia. Mereka punya kelemahan dan kekurangan. Kelemahan dan kekuarangan ini menjadi jembatan manusia mendekati_Nya agar dibimbing.
Manusia manusia terbaik adalah yang dekat dengan_Nya. Para ilmuwan, filsuf, spiritualis dan nabi adalah diantara orang orang yang luar biasa dan berusaha menterjemahkan, menafsirkan apa yang menjadi ayat ayat Tuhannya di alam semesta.
Tuhan yang maha vibratif menyampaikan pesan pesan pada manusia setidaknya melalui dua jalur. Pertama pesan kauniyah, yakni ragam kejadian dan fenomena semesta yang lebih dahulu hadir bahkan sebelum manusia hadir.
Kedua ayat qauliyah vibrasi Ilahi yang diterima langsung para nabi dan kemudian dicatatkan dalam kitab. Para nabi menafsir dan menerjemahkan vibrasi Tuhan yang langsung disampaikan pada mereka. Sejumlah kitab suci mencatatkan pesan pesan Tuhan versi nabi nabi.
Menarik apa yang disampikan Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat jadi narasumber bersama KH Buya Syakur. Ia mengatakan bahasa adalah budaya, termasuk tulisan. Pesan pesan Tuhan itu membutuhkan realitas budaya dalam bentuk bahasa dan tulisan.
Apapun pesan Tuhan dan tafsir para nabi dari Tuhannya tak dapat sampai kepada manusia tanpa bahasa dan tulisan. Bahasa dan tulisan punya gaya dan versinya sendiri. Vibrasi pesan pesan Tuhan itu universal dan suci. Namun bahasa dan tulisan adalah produk manusia yang bisa multitafsir.
Inilah kemudian cendikiawan Islah Bahrawi mengatakan, “Kita ini bukan penganut agama sesungguhnya, tapi penganut tafsir-tafsir agama”. Sebuah kritik tajam yang memberikan sengatakan kesadaran pada kita semua, terutama entitas fanatik, yang merasa paling benar.
Kita kadang menjadi follower, ikut ikutan dan nyaris tanpa skeptisi. Padahal sesungguhnya vibrasi dan pesan pesan Tuhan itu sangat dekat dan melakat dalam diri kita. KH Syaiful Karim mengatakan “Qolbun mukmin baitullah”. Allah terdekat dan melekat dari apa pun yang ada.
Dahulu kita berpikir Allah, Tuhan yang esa itu bersuara menggelegar dari langit. Ada vocal, ada suara dan diskusi dengan manusia (nabi), faktanya tidak demikian. Allah, Tuhan yang esa bukan makhluk yang sama, sederajat dengan kita, dan punya pita suara. Tuhan itu vibratif kauniyah, qauliyah.











