Pewarta : Fitri
Kabupaten Garut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino yang disebut sebagai “Godzilla El Nino”. Kondisi tersebut membuat Dinas Pertanian Kabupaten Garut meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan yang dapat memengaruhi produksi tanaman pangan di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengatakan, hingga saat ini kondisi di lapangan masih relatif aman karena hujan masih turun meski dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi. Namun, pihaknya tetap mewaspadai dampak perubahan iklim yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
“Kalau lihat kondisi sekarang sebenarnya belum terlalu mengkhawatirkan. Masih ada hujan, walaupun intensitasnya tidak terlalu besar. Tapi prediksi BMKG tahun ini musim kering akan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan utama sektor pertanian saat ini adalah ketersediaan air sebagai faktor kunci dalam menjaga swasembada pangan. Selain itu, aspek lahan juga menjadi bagian penting yang saling berkaitan dalam menjaga produktivitas pertanian.
Menurutnya, kondisi cuaca yang sulit diprediksi menjadi tantangan tersendiri bagi petani maupun petugas lapangan. Perubahan pola hujan yang tidak menentu membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat melakukan pemantauan hingga ke tingkat petani.
“Sekarang kita berpacu dengan waktu karena hujan tidak bisa diprediksi kapan berakhir dan kapan mulai lagi. Sewaktu-waktu bisa berubah. Karena itu petugas lapangan kami minta aktif memantau wilayah-wilayah yang setiap tahun rawan kekeringan,” katanya.
Dinas Pertanian Kabupaten Garut memprioritaskan penyelamatan tanaman yang sudah tumbuh atau standing crop agar tidak mengalami puso akibat kekurangan air. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga potensi produksi pertanian tetap dapat dipanen.
“Yang utama adalah menyelamatkan tanaman yang sudah ada. Jangan sampai tanaman yang sudah tumbuh malah gagal panen karena kekeringan. Itu potensi produksi yang harus dijaga,” ucapnya.
Selain pengawasan lapangan, pemerintah juga merekomendasikan sejumlah tanaman yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering pada masa peralihan musim hujan ke kemarau. Tanaman tersebut di antaranya jagung, tembakau, dan kacang-kacangan.
“Tanaman seperti jagung, tembakau, dan kacang-kacangan relatif lebih tahan terhadap kekeringan. Meski begitu, pada awal pertumbuhan tetap membutuhkan air,” pungkasnya.













