Ekonomi & Bisnis

UGM : Peternak Sapi Perah Harus Naik Kelas, Jangan Hanya Jadi Pemasok Susu Mentah

adminsigiku.com
×

UGM : Peternak Sapi Perah Harus Naik Kelas, Jangan Hanya Jadi Pemasok Susu Mentah

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Red

Yogyakarta – Upaya meningkatkan kesejahteraan Peternak Sapi Perah dinilai tidak cukup hanya dengan mendorong kenaikan Produksi Susu Segar. Peternak harus diberi ruang lebih besar untuk masuk ke sektor hilir agar dapat menikmati nilai tambah yang selama ini lebih banyak dinikmati pelaku industri pengolahan.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Satyaguna Rakhmatulloh, menegaskan bahwa transformasi peternak dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pelaku usaha produk olahan susu harus menjadi agenda strategis pembangunan industri persusuan nasional.

“Peternak harus didorong terlibat dalam proses hilirisasi, mulai dari pengolahan, pengemasan hingga pemasaran produk susu bernilai tambah agar memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujar Satyaguna dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, peningkatan produksi susu tanpa diikuti penguatan posisi peternak dalam rantai nilai hanya akan menambah pasokan susu segar di pasar tanpa memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi peternak.

Karena itu, hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat posisi tawar peternak. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah diversifikasi produk susu menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti Susu Pasteurisasi, Yoghurt, Keju, Es Krim, Puding Susu, hingga produk pangan fungsional.

Selain menciptakan sumber pendapatan baru, diversifikasi produk juga mampu memperpanjang masa simpan susu dan mengurangi ketergantungan peternak terhadap fluktuasi harga susu segar.

“Proses diversifikasi perlu dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas kelompok ternak dan kebutuhan pasar agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang optimal,” katanya.

Satyaguna juga menekankan pentingnya pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi peternak. Dukungan tersebut mencakup aspek teknis pengolahan susu, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengurusan legalitas produk agar peternak mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Tak hanya itu, ia menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan dalam rantai usaha persusuan. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam berbagai tahapan usaha, mulai dari produksi, pengemasan, administrasi hingga pemasaran produk olahan.

“Keterlibatan perempuan dapat memperkuat ekonomi keluarga peternak sekaligus mendorong terciptanya usaha yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hilirisasi yang berkelanjutan, Satyaguna menilai diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan dunia usaha. Dukungan berupa akses pembiayaan, penguatan kelembagaan, pengembangan pasar, transfer teknologi, serta pendampingan usaha menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem persusuan yang lebih adil dan menguntungkan peternak.

Ia menegaskan, Peternak Sapi Perah tidak boleh terus berada di posisi paling bawah dalam rantai bisnis susu nasional.

“Peternak harus menjadi subjek utama hilirisasi, bukan sekadar pemasok bahan baku. Dengan terlibat dalam pengolahan dan pemasaran produk, mereka dapat menikmati nilai tambah yang selama ini lebih banyak dinikmati sektor hilir,” tegasnya.

Melalui hilirisasi berbasis kelompok ternak, peternak diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produksi susu, tetapi juga naik kelas menjadi pelaku usaha yang mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap upaya mewujudkan kemandirian susu nasional.