Pewarta : Red
Jakarta – Jumlah peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) yang meninggal dunia terus bertambah. Hingga kini, tercatat sedikitnya lima peserta meninggal selama mengikuti program tersebut.
Penyebab kematian disebut bervariasi. Namun, salah satu kasus yang menjadi sorotan diduga dipicu heat stroke yang berkembang menjadi henti jantung (cardiac arrest). Hal itu terungkap dari hasil pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) yang menunjukkan “flat asystole”, yaitu kondisi ketika aktivitas listrik jantung telah berhenti sepenuhnya.
“Kondisi terus memburuk hingga pukul 18.51 WITA, hasil EKG menunjukkan flat asystole. Pada pukul 19.00 WITA dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke,” ujar Kepala BPSDMD Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan.
Flat Asystole, Pertanda Jantung Sudah Berhenti Bekerja
Dokter Spesialis Jantung, dr. Vito Anggarino Damay, SpJP(K), FIHA, FICA, menjelaskan bahwa “asystole” atau yang dikenal sebagai “flat line” pada EKG merupakan kondisi ketika tidak lagi terdapat aktivitas listrik pada jantung.
“Kalau aktivitas listrik jantung sudah tidak ada, maka jantung tidak lagi mampu memompa darah ke seluruh tubuh. Pada kondisi ini penderita tidak sadar, umumnya sudah tidak bernapas, dan denyut nadinya tidak teraba,” jelas dr. Vito.
Ia menegaskan, asystole merupakan salah satu bentuk henti jantung dengan tingkat keberhasilan penyelamatan paling rendah, sehingga memerlukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan penanganan medis darurat secepat mungkin.
Heat Stroke Bisa Memicu Kematian Mendadak
Menurut dr. Vito, suhu tubuh yang melonjak hingga lebih dari 40 derajat Celsius akibat heat stroke dapat memicu rangkaian kegagalan fungsi tubuh secara masif.
Tubuh mengalami kehilangan cairan dalam jumlah besar, tekanan darah menurun drastis, denyut jantung meningkat tajam, sementara kebutuhan oksigen jantung ikut melonjak. Di saat bersamaan, gangguan elektrolit seperti kalium dan natrium dapat memicu **aritmia** atau gangguan irama jantung.
“Analogi sederhananya seperti terjadi korsleting pada sistem kelistrikan jantung,” ujarnya.
Tak hanya itu, panas ekstrem juga dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh, peradangan berat, gangguan pembekuan darah, hingga “rhabdomyolysis” atau kerusakan otot yang parah.
“Kombinasi seluruh kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung tidak lagi mampu mempertahankan sirkulasi darah. Pada kasus yang berat, kondisi ini dapat berakhir dengan cardiac arrest,” tegas dr. Vito.
Ia menekankan bahwa pada kasus “heat stroke”, henti jantung umumnya bukan disebabkan penyakit jantung primer, melainkan akibat **kegagalan multi organ** yang dipicu oleh suhu tubuh yang sangat tinggi.
Perlu Evaluasi Menyeluruh
Bertambahnya jumlah peserta SPPI yang meninggal dunia memunculkan pertanyaan serius mengenai aspek keselamatan, pengawasan medis, manajemen risiko, serta standar pelaksanaan kegiatan lapangan, terutama bila peserta harus menjalani aktivitas fisik di bawah cuaca panas ekstrem.
Heat stroke bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan kondisi gawat darurat medis yang memerlukan pendinginan tubuh secara cepat dan penanganan intensif. Keterlambatan penanganan dapat berujung pada kegagalan organ hingga kematian.













