Penulis “The Advokat”, Muhamad Ijudin : Hukum Harus Menjadi Pelindung Bagi Semua, Bukan Hanya Pihak Tertentu

0

Pewarta : A Y Saputra

Kabupaten Ciamis – Muhamad Ijudin Rahmat, advokat yang kini berstatus sebagai warga binaan di Lapas Kelas IIB Ciamis, menyampaikan harapan besar melalui karya tulisnya yang berjudul The Advokat.Rabu (29/7/2026)

Melalui kisah nyata yang dituangkan dalam buku tersebut, ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya pihak yang memiliki wewenang dan kepentingan di negara ini, untuk meninjau kembali wajah penegakan hukum di Indonesia.

Menurut Ajudin, sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak penyimpangan dalam pelaksanaan hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, hingga lembaga peradilan.

“Hukum di negara kita ini seolah tidak memberikan perlindungan bagi penegak hukum yang berpegang pada kebenaran. Termasuk saya sendiri, yang kini merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi korban dari sistem yang seharusnya menjaga keadilan,” ujarnya.

Perjalanan karirnya sebagai advokat dimulai sejak masa magang di kantor hukum, hingga mengenyam pendidikan tinggi dan menangani berbagai perkara besar yang sempat menjadi sorotan publik.

Mulai dari perjuangan membela 99 Kepala Keluarga di Dusun Walata Pangalengan, sengketa lahan dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat tahun 2018, hingga pendampingan 80 Kepala Keluarga di Desa Cikawong, Kabupaten Lebak yang bersengketa lahan dengan Perhutani.

Seluruh perjuangan itu diceritakan secara apa adanya tanpa rekayasa, karena semuanya adalah fakta yang bisa diverifikasi ke pihak-pihak terkait maupun dari jejak digital yang tersebar.

Dalam perjalanan mengemban amanah membela masyarakat, ia pun harus berhadapan dengan hukum. Ia divonis bersalah dengan hukuman lima tahun penjara di Pengadilan Negeri Ciamis.Upaya banding telah ditempuh namun hasilnya tetap sama.

“Sebenarnya saya berniat mengajukan kasasi, namun saya hitung secara logika, biayanya tidak sedikit. Terlebih lagi apa yang saya lawan sejatinya adalah kebijakan yang melekat pada kekuasaan pemerintah. Akhirnya saya memilih untuk ikhlas menerima keputusan itu saat ini,” ungkapnya.

Di dalam bukunya,Ijudin juga menyisipkan kisah pribadi tentang dinamika rumah tangga yang dialami sesama advokat yang bernasib sama, tak sedikit yang akhirnya berujung pada perpisahan karena tekanan keadaan.

“Saya ingin tunjukkan bahwa menjadi advokat yang berpihak pada kebenaran bukan tanpa risiko, bahkan bisa mengorbankan kehidupan pribadi sendiri,” tambahnya.

Meski kini berada di balik tembok penjara, semangat Ijudin untuk menceritakan perjalanan penegakan hukum tak pernah padam. Kini ia sedang menyusun kelanjutan kisahnya dalam buku kedua The Advokat 2. Ia berharap Tuhan memberinya umur panjang agar bisa menyelesaikan amanah ini, serta menjadi pengingat bagi seluruh bangsa agar hukum benar-benar tegak secara adil tanpa pandang bulu.