Ragam

Membangun Kerukunan & Keikhlasan Melalui Tradisi “Roan” Khas Pesantren

adminsigiku.com
×

Membangun Kerukunan & Keikhlasan Melalui Tradisi “Roan” Khas Pesantren

Sebarkan artikel ini

Penulis: Nur Fadilah (Santri SMK Ma’arif NU Ajibarang Banyumas)

Hari minggu adalah waktu dimana para santri untuk kerja bakti atau yang istilah pondoknya sering disebut ro’an. Kali ini Minggu (16/8/2020) setelah melaksanakan shalat subuh berjama’ah diteruskan dengan mengaji, santri membersihkan halaman sekolah SMK Ma’arif NU 2 Ajibarang dan lingkungan Pesantren Miftahul Ulum. Lalu membersihkan kamar-kamar pondok, kamar mandi, dapur, dan pekarangan. Tak lupa membersihkan bagian belakang pondok seperti memangkas rerumputan liar, mengurangi dedaunan, mencabut dan menyapunya agar suasana menjadi lebih nyaman dan enak dipandang.

Roan berawal dari kata tabarrukan yang disingkat menjadi rukan, kemudian menjadi roan. Roan adalah hal yang mengadat dan melekat pada jati diri pesantren. Setiap anak bertanggung jawab untuk roan, paling minim adalah membersihkan kamarnya sendiri. Disamping kebersihan ajaran islam, juga kebersihan adalah anjuran dokter dan tentunya manfaat dari kebersihan untuk diri masing-masing terlebih SMK Ma’arif NU 2 Ajibarang yang berbasis jurusan kesehatan. (Sumber google)

Di Pesantren kami, roan dilaksanakan setiap hari minimal membersihkan Masjid Ibnu Sina. Dan di hari Minggu adalah roan akbar. Semua santri membersihkan sesuai tugasnya masing-masing sesuai lintingan kertas yang diambilnya. Dari roan banyak manfaat yang dapat diambil manfaatnya seperti melatih kedisiplinan, tanggung jawab, keikhlasan, jiwa sosial, kebersamaan dan kerukunan.

Sebelumnya lingkungan sekolah sering digunakan untuk latihan haji di hari Minggu sehingga untuk menghormatinya santri harus menjaga kebersihan. Namun latihan haji pun terdampak covid-19. Santri pun dipulangkan selama beberapa bulan dan dua minggu ini aktif kembali. Menjaga kebersihan tetaplah harus dilakukan minimal membuang sampah pada tempatnya dan mengambil sampah yang terlihat kita saat berjalan.

Santri diajarkan untuk mandiri, akhlakul karimah, jiwa nasionalisme dan kepedulian sosial. Saat jauh dari orang tua, ruang lingkup kehidupan pesantren antar individu menjadi keluarga besar. Keluarga yang saling memahami dan peduli, menghormati dan menyayangi. Saling berkorban dan mendahulukan.

Semoga dengan roan akbar seperti ini dapat menjalin kebersamaan, menambah kerukunan, jiwa yang tulus serta ikhlas. Terhindar dari segala wabah penyakit, dan covid-19 cepat berlalu. Menjadi insan yang dapat bertanggung jawab dan dapat dipercaya.