Ragam

Pendidikan Mental Positif (PMP)

adminsigiku.com
×

Pendidikan Mental Positif (PMP)

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Sejumlah hasil penelitian menjelaskan bahwa sukses seseorang dominan ditentukan oleh soft skill atau kepribadian, bukan ditentukan oleh hard skill atau intelektualitas. Ternyata otak cerdas tidak cukup dominan menentukan kesuksesan seseorang. Kecerdasan sikaplah yang jauh lebih penting dimiliki seseorang.

Dunia pendidikan kita tidak membutuhkan guru-guru yang cerdas semata. Dunia pendidikan kita membutuhkan guru-guru yang punya kepribadian wow. Dibutuhkan guru-guru yang punya attitude seorang pendidik sejati. Pendidik terbaik kompetensi pedagogiknya sangat kuat. Ia adalah guru yang benar-benar disukai anak didik.

Pola pendidikan kita harus diubah dari memintarkan anak secara intelektual menjadi “memintarkan” anak secara mental. Pola pendidikan mental positif (PMP) perlu menjadi prioritas. Saat guru masuk ruang kelas maka harus ada suasana kelas yang memanusiakan manusia. Guru dan siswa adalah teman belajar. Harus terjadi pertemanan yang baik.

Guru masuk ruang kelas tidak lagi identik hanya mengajarkan intelektualitas akademikus melainkan mengajak anak didik untuk belajar plus-plus. Mata pelajaran hanyalah “media” menguatkan hubungan guru dan anak didik. Plus karena butuh angka-angka di raport dan ijazah.

Ada hal yang jauh lebih penting dari transfer pengetahuan semata yakni “transfer mental”. Apa itu transfer mental ? Transfer mental diantaranya adalah bagaimana setiap anak bisa memiliki mentalitas makin mandiri, dewasa, berakhlak mulia dan menyukai hal-hal positif. Anak didik harus memiliki mental positif.

Pendidikan mental positif (PMP) akan melahirkan pribadi-pribadi positif. Pribadi-pribadi mental positif akan melahirkan masyarakat mental positif. Masyarakat mental positif akan melahirkan bangsa dan pemerintahan yang positif. Hujat, caci maki, nyinyir, iri dengki dan segala mentalitas negatif dianggap “alien” atau mental Setanik.

Pendidikan mental positif dalam wujud pelajar Pancasila hanya bisa terlahir dari guru-guru yang punya “pesona” khas bagi anak didiknya. Kalau hanya guru biasa maka setiap anak didik dipastikan tidak tertarik dengan gurunya. Anak didik hanya tertarik pada guru yang punya pesona khusus. Artinya guru yang punya keistimewaan disenangi anak didiknya.

Mengapa guru pekerja atau guru biasa-biasa saja tidak akan berpengaruh pada anak didik? Jaman ini jaman gadget. Gadget dan dimensi maya jauh akan lebih menarik dibanding guru biasa-biasa saja. Saat ini guru sudah bukan satu-satunya lagi sumber belajar. Malah para guru memberi tugas pada anak didik agar belajar dari gadgetnya.

Pemerintah saat ini Kemdikbud mengharapkan dunia pendidikan mampu melahirkan pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila versi pemerintah adalah pelajar yang memiliki ciri sebagai berikut : 1) beriman, 2) mandiri, 3) kritis, 4) kreatif, 5) gotong royong, dan 6) berkebinekaan global. Inilah diantara ciri profile pelajar Pancasila.

Pelajar Pancasila harus terbentuk dari pola pendidikan mental positif. Melihat segala perbedaan, dinamika dan SARA sebagai fakta sosial yang harus dipersepsi secara positif. Pelajar Pancasila hadir dari pola pendidikan mental positif. Hadir dari para guru yang moderat jauh dari “mengkafiran” pihak lain sebagai sesama orang beriman.

Pola pendidikan mental positif, sudut pandangnya adalah selalu positif. Apa yang dilihat, didengar, dialami dan dirasakan dicerna secara positif. Mentalitas anak didik digiring pada optimisme, toleransi, melayani, rendah hati namun mandiri dan tahan banting. Generasi kuat bukan generasi yang pintar akademiknya melainkan kuat mentalitas positifnya.

Generasi terbaik selalu positif melihat berbagai tantangan dan kesulitan sebagai peluang dan ujian dari Ilahi. Generasi mental positif punya filosofi bahwa pikiran dan keyakinan yang positif akan melahirkan hal positif. Tuhan saja tergantung prasangka hambaNya. Setiap prasangka berbuah apa yang disangkakan.