Sembilan Persoalan Personal Guru

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Semoga tulisan ini menjadi bahan muhasabah bagi diri penulis pribadi. Pada hakekatnya menyampaikan, mengajak dan memberitahukan sesuatu pada orang lain adalah pada diri sendiri. Sebagai guru, beristri guru, orangtua guru, adik guru, kakak guru dan anak pun semoga menjadi guru, tentu wajib mengenali potensi dan impotensi diri guru.

Dari Surat Al Hasyr ayat 18-19, Allah SWT memerintahkan kita untuk bermuhasabah diri. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Lupa pada Allah dan lupa pada diri sendiri adalah musibah. Musibah dan muhasabah dua hal berbeda. Muhasabah bisa mendekatkan kita pada Allah dan bisa menguatkan pengenalan diri sendiri dan pencapaian diri sendiri. Apa yang sudah dilakukan, apa yang akan dan apa manfaat bagi diri dan orang lain.

Nah terkait diri seorang guru maka kita entitas guru harus membaca apa sebenarnya diantara persoalan personal entitas guru? Pepatah bijak mengatakan, “Bila kita ingin sukses maka kuatkan dan kembangkan kelebihan/potensi kita dan lemahkan atau minimize segala kelemahan kita”. Apakah kelemahan personal entitas guru sebagai profesi terhormat ?

Jangan sampai profesi guru sebagai profesi paling terhormat tetapi ada sejumlah ketidakterhormatan dan demartabatisasi profesi guru yang ada dalam personalitas kita. Mari kita “bedah” apa saja yang menjadi masalah personal profesi guru ? Dalam muhasabah yang penulis dalami maka setidaknya ada sembilan masalah guru.

Pertama, guru banyak yang melanggar UURI No 14 Tahun 2005. Terutama pasal 41 yakni faktanya masih ada guru tidak aktif dan tidak mau tahu tentang organisasi profesi guru. Guru yang apatis, tidak aktif, tidak terlibat dan asing dari organisasi profesi guru yang merupakan amanah UURI adalah guru pelanggar undang-undang. Setidaknya para guru bisa aktif dan masuk di PGRI yang telah berjasa memperjuangkan kesejahteraan setiap guru (PNS) rata-rata Rp.36 juta per tahun dan guru swasta Rp.18 juta per tahun.

Kedua, guru banyak yang nyinyir anyir, negative thinking pada pemerintah padahal Ia sendiri terutama ASN adalah aparatur pemerintah. Bahkan lebih tak elok lagi seolah tak menyukai atau membuli secara metaforis atau vulgar kepada kepala negara. Padahal kepala negara adalah bapaknya para guru atau ASN. Faktanya Presiden saat ini adalah keluarga guru. Ia menikahi putri seorang guru dan kakak dari Ibu negara adalah seorang guru olahraga di SMPN. Guru nyinyir pada pemerintah adalah guru yang aneh tapi nyata.

Ketiga, guru banyak simpatisan organisasi terlarang. Nampaknya para guru belum sadar bahwa ormas terlarang adalah melawan UUD 45 dan Pancasila. Hukum tertinggi, aturan tertinggi dari sebuah negara adalah konstitusi bukan dogma yang dipolitisir oleh ormas terlarang. Apalagi ormas itu lahir dari luar yang tak ada ikatan sejarah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Keempat, guru banyak entitas PNS yang tidak pandai mengelola finansial internal keluarga. Ekonomi keluarga menggap-menggap karena boros, tidak hemat dan gaya hidup aneh-aneh. Memang gaji guru PNS kecil tapi bila kita mampu mengetatkan pengeluaran dan disiplin pada kebutuhan bukan pada keinginan maka akan lebih baik. Kata orang bijak, “Tuhan mencukupkan kebutuhan kita tapi keinginan kita tidak dicukupkan.” Guru minus gaji dan minus prestasi jumlahnya cukup banyak!

Kelima, guru banyak yang asal kerja, kerja asal. Guru yang asal kerja dan kerja asal adalah guru guru yang bekerja bukan dari panggilan hati tapi dari panggilan dompet. Artinya hanya mencari kerja bukan mengabdi dan bangga sebagai guru. Guru-guru asal kerja, kerja asal adalah guru-guru yang bermasalah dalam memahami ajaran agama. Mengapa bermasalah ? Kerena kerja melayani anak didik adalah diantara ibadah terbaik di muka bumi. Bentuk ibadah sosial dan mengajarkan akhlak mulia. Bukan mengajarkan kemalasan dan keasalan, asal asalan.

Keenam, guru banyak yang malas baca, malas menulis. Masih mendingan bila guru malas menulis tapi rajin baca. Bila ada guru yang malas baca dan malas menulis bahkan menulis di white board saja malas, sungguh kalau Rhoma Irama tahu hal ini, Ia akan mengatakan “terlalu”. Guru sejatinya adalah pembaca. Sejelek-jeleknya kali-kali menulis. Minimal menulis status singkat yang inspiratif dan memotivasi anak didik.

Ketujuh, guru banyak yang mengidap inferiority complex. Apa itu imperiority complex ? Definis sederhannya adalah rasa rendah diri, tidak percaya diri, kurang berani, malu tampil beda dan menawan menebar manfaat. Padahal guru adalah diantara profesi paling terhormat di muka bumi, selain profesi para ulama dan para ahli ilmu. Kerja guru adalah kerja mirip kerjanya para Nabi, para wali yakni mengajak, mengajarkan akhlak mulia.

Kedelapan, banyak guru gagap IT. Dunia IT adalah dunia yang harus menjadi tuntutan kecakapan para guru saat ini. Era revolusi industri 4.0 dan era disrupsi adalah era ramah IT. Guru-guru saat ini terutama guru tua sangat gaptek. Entitas guru tua, guru senior mayoritas gaptek. Guru gaptek akan sangat sulit diharapkan, diikutsertakan dalam percepatan suksesi layanan pendidikan kekinian. Jaman saat ini menuntut kecakapan IT.

Kesembilan banyak guru pengeluh, penuntut. Bila entitas guru lebih kuat mengeluh dan menuntutnya sementara “nafsu” belajarnya lemah bahaya. Tugas guru adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, memanusiakan manusia. Tidak mungkin tercapai sukses tujuan pendidikan nasional dari entitas guru pengeluh dan penuntut. Waspadalah! Itulah sejumlah persoalan personal kita para guru! Guru bisa keluar dari persoalan personal di atas ? Bisa! Harus bisa !.