Ragam

Pancasila Dan Komunisme

adminsigiku.com
×

Pancasila Dan Komunisme

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Pancasila adalah dasar negara yang tidak bisa ditawar lagi. Semua yang berseberangan dengan Pancasila di negeri ini harus dilawan. Pancasila adalah konstitusi, kedudukannya diatas semua perspektif bahkan kepercayaan yang ada di negeri ini.

Kepercayaan, agama dan adat istiadat secara ketatanegaraan berada dalam bingkai ideologi negara yakni Pancasila. Pancasila adalah way of life bagi bangsa Indonesia. Pancasila adalah norma konstitusi yang tidak dapat diubah.

Mengubah Pancasila sama dengan mengubah dan melenyapkan keindonesiaan sebagai sebuah bangsa. Masih adanya kelompok tertentu yang merongrong ideologi Pancasila tentu sangat bahaya. Ideologi berhaluan komunis atau ideologi berbasis agamis. Sama saja!

Pancasila adalah segel kebangsaan. Bila Pancasila digoyang, diubah dan diganti maka Indonesia akan bubar. Terutama ideologi komunis sangat berbahaya bagi keberadaan dasar negara Pancasila. Walau pun dahulu tahun 1926-1927 partai komunis Indonesia bagian dari perjuangan bangsa melawan pemerintahan Belanda.

Petrik Matanasi dalam “Hantu Komunisme yang Masih Saja Ditakuti” menulis, ketika masa pergerakan nasional, PKI diklaim sangat berani unjuk gigi dibanding partai lain. Fakta sejarah membuktikan keberanian, radikalisme dan ekstrimitas kaum komunisme di Indonesia dalam menghadapi Belanda.

Sebelum Indonesia lahir dan masih Hindia Belanda, partai dan ideologi apa pun sah-sah saja. Indonesia saat belum terbentuk masih mencari bentuk ideologi perjuangan. Wajahnya ada yang agamis, nasionalis, komunis bahkan primordialis. Tidaklah heran Bung Karno kemudian menyatukan dengan nama Nasakom.

Nasakom adalah proses “kolaborasi” kekuatan bangsa versi Bung Karno yang menurut Bung Hatta sebuah kesalahan. Bung Karno menyatukan aliran nasionalis, agamis dan komunis agar duduk bersama karena dulu pun berdiri bersama melawan Belanda.

Bung Hatta memandang Nasakom bukan persatuan melainkan “persatean”. Ideologi komunis tidak cocok disatukan dengan ideologi nasionalis dan agamis. Bung Karno kebingungan, faktanya ada tiga wajah gaya perjuangan kebangsaan saat itu.

Bahkan dalam catatan sejarah terkenal tokoh komunis seorang ulama yakni Haji Misbach. Ia mengadaptasi ideologi komunis sebagai jalan perjuangan melawan Belanda. Baginya komunisme yang sosialis tidak berseberangan dengan ajaran agama Islam. Ini menarik dan unik dalam sejarah kita.

Abdul Muluk Nasution dalam “Pemberontakan Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926- 1927 (1981:91) menjelaskan, secara bertahap beberapa tokoh PKI setempat ditangkap Belanda. Beberapa nama seperti Said Ali, Idrus, Sarun, Yusup Gelar Radjo Kacik, Bagindo Ratu, dan Haji Baharuddin ditawan Belanda sebelum pemberontakan dilancarkan.

Sejumlah tokoh muslim yang masuk ideologi komunis adalah fakta sejarah. Bahkan tokoh komunis Muso dan Aidit adalah seorang muslim. Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Itulah dinamika jelimet perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan saat itu. Semua ideologi sebelum kemerdekaan sah-sah saja. Kini sesudah merdeka ideologi hanya satu yakni ideologi konstitusi Pancasila. Sebaikanya para “ideolog” agamis, nasionalis dan “mantan” ideolog komunis, bersatu dalam ideologi Pancasila.

Menyoal negatif Pancasila adalah kesalahan patal. Menginginkan ideologi komunis tumbuh lagi adalah bunuh diri. Menginginkan dasar negara berbasis agamis pun tak cocok. Di negeri kita semua agama ada, semua suku ada, semua keragaman dan perbedaan ada. Pancasila adalah perekat terbaik.

Pancasila adalah final. Pembumian nilai-nilai Pancasila tidak pernah final. Terus berkelanjutan sesuai zamannya dan konteksnya. Pancasila sakti. Kita yang mensaktikan Pancasila atas dasar cinta Indonesia, kebangsaan, persaudaraan dan kebersamaan. Hakikatnya Pancasila adalah petunjuk dari Tuhan yang maha kuasa.

Mari menjadi bangsa yang baik dengan membumikan nilai-nilai Pancasila. Tetap nasionalis, agamis dalam bingkai ideologi Pancasila. Kita lawan segala bentuk radikalisme, intoleransi, terorisme, dan ideologi baru dari luar atas dasar dan tujuan menciptakan kesejahteraan bersama dalam bingkai NKRI. Merdeka lahir batin