OPINI/Artikel

Kisah Kekejaman Akademik

adminsigiku.com
×

Kisah Kekejaman Akademik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Sebuah kelakar Saya lontarkan pada PA (Pelatih Ahli) Lokakarya PSP Cipayung Bobor. Sang PA Saya sindir “Bapak ini dulu seangkatan kuliah Sama Saya di pasca sarjana, tapi Bapak tanpa meraba perasaan teman seangkatan terus melaju menyelesaikan kuliah dengan cepat”

Saya lanjutkan, “Demi tujuan akademik dan demi gelar doktor yang Bapak raih bapak lupa persahabatan. Bapak abaikan persahabatan dan melaju sendirian meraih gelar doktor terbaik. Ini satu kekejaman akademik! Saya katakan demikian. Ia awalnya agak kaget tapi Ia pun tersenyum. Ia katakan “Wah Pak Dudung bisa saja”.

Ia adalah Dr. Rais seorang dosen di program doktoral Unpak saat ini. Ia pun menjadi PA di program PSP Kementerian Pendidikan dan Ristek. Ia adalah mantan wartawan yang ubah haluan menjadi seorang pendidik. Ia mengatakan lebih nyaman menjadi seorang pendidik (dosen).

Saat bertemu dengan Saya Ia mengingat Saya sebagai seorang penyanyi dalam sebuah acara, 10 tahun yang lalu. Ahaa, Saya penyanyi. Ia masih ingat ketika Saya membawakan sebuah lagu berjudul “Hayang Kawin” yang saat itu sangat populer. Lagunya cukup gek gek dan enerjik, menurutnya. Ah, Saya sudah lupa.

Selanjutnya Saya jailin lagi dengan kata, “Bapak dulu meninggalkan Saya, kini mengajari Saya lagi. Dulu sebagai Sahabat kuliah, melaju meninggalkan dan kini malah menjadi guru Saya”. Ia pun tersenyum dan mengatakan, “Apakah Saya sejahat itu?”. Suasana pun menjadi egaliter dan gek gek, rilek.

Dr. Rais mengatakan belajar itu perlu “Happy dan Harmoni”. Ini penting. Mengapa? Agar proses belajar menjadi menyenangkan dan penuh keselararasan. Tidak formalitisk searah menyuapi tetapi saling menyuapi, saling berbagi dan memberi pengalaman.

Ya kita sepakat semua bisa saling belajar. Semua orang bisa menjadi guru dan semua guru bisa menjadi seorang murid. Belajar sejajar sebagai orang dewasa dalam pendekatan andragogik tentu lebih cair dan harmoni. Belajar bersama dan saling mengapresiasi tentu lebih happy.

Pelatih Ahli adalah coach yang akan mendampingi, membimbing dan mitra diskusi terkait pengembangan sekolah program penggerak. Dr. Rais pun mengajak para kepala sekolah bisa menggerakan sekolah dengan hobby positif dari person kepala sekolah. Sekolah yang transformatif adaptif terhadap tuntutan zaman adalah sebuah keniscayaan.

Bisa jadi dalam PSP pun kita semua ekosistem pendidikan wajib saling belajar bersama. Tidak ada “kekejaman akademik” maju bersama, hebat semua. Sekolah pun bukan tempat untuk mengejar angka-angka melainkan akhlak , akhlak-akhlak mulia menjadi target. Sekolah sejatinya menjadi “pabrik” lahirnya produk manusia berakhlak mulia