Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Masa pengenalan lingkungan sekolah adalah sebuah fase adaptasi terprogram di setiap awal tahun ajaran baru bagi setiap anak didik. Masih pentingkah saat ini ? Tentu saja sangat sangat penting. Fase singkat pengenalan lingkungan sekolah harus benar-benar efektif. Mengapa ? Karena anak didik harus mendapatkan layanan terbaik saat masuk sekolah baru, jenjang baru.
Terutama pasca pandemik dimana hampir dua tahun lebih anak didik terpasung dalam dunia maya, dunia daring. Tentu akan ada sebuah mental dan gejala baru yang beda dari tahun-tahun sebelumnya era non pandemik, non daring. Pengenalan lingkungan sekolah saat ini identik mengembalikan anak didik rebahan di kamar, kembali duduk manis di ruang kelas.
Sejumlah anak tentu “terbelah” dalam dua keinginan gaya belajar. Ada anak yang lebih suka belajar luring di ruang kelas dan sekolahan. Ada pula anak didik yang lebih suka daring, tidak pakai ribet dan praktis, santai di rumah. Sebagaimana seorang anak didik saat ditanya Presiden Jokowi. Ia mengatakan memilih daring daripada luring.
Tantangan berat bagi pihak guru dan sekolahan terutama saat anak didik lebih suka daring dibanding luring. Anak didik yang memilih belajar daring karena belajar simple dan tak harus bertemu guru secara langusung. Anak Sebagian merasa tidak perlu lagi ada guru yang langsung berhadapan di ruang kelas. Apalagi bila gurunya tidak menarik, jutek dan tidak empatik.
Fase pengenalan lingkungan sekolah harus benar-benar memberi pesan, kesan, agar setiap anak didik peserta pengenalan lingkungan sekolah kembali merasa perlu, bergairah dan termotivasi untuk belajar di ruang kelas (sekolah) bukan hanya di ruang maya. Sekolah dan panitia pengenalan lingkungan sekolah benar-benar harus membuat giat pengenalan lingkungan sekolah yang aman, asyik dan menyukai sekolah baru.
Bila pengenalan lingkungan sekolah terlalu dijejali dengan materi, minus apresiasi dan rekresasi tentu akan tidak efektif pada semangat belajar anak didik peserta masa pengenalan lingkungan sekolah. Kembalikan semangat belajar anak didik di ruang kelas bukan di ruang maya, adalah diantara motivasi yang harus disampaikan pada anak didik peserta masa pengenalan lingkungan sekolah.
PLS membawa pesan atau “kode kerasnya” adalah anak mengenal sekolah, tempat baru, sahabat baru, GTK baru, jenjang baru, almamater baru dan tantangan baru. Materi lainnya dalam waktu yang singkat tentu tidak terlalu penting. Mengapa ? Karena akan dikenal dalami dalam proses belajar di kemudian hari. Saat PLS berikan lanyanan informatif edukatif humanis yang bisa membangkitkan semangat luring.
Bila Nadiem Makarim menjelaskan ada tiga dosa besar di dunia pendidikan yakni radikalisme, kekerasan seksual dan intoleransi, maka ini harus menjadi agenda semua pihak dalam proses pembelajaran pasca PLS. Bila Nadiem Makarim mengajak para guru untuk melayanai anak didik dengan pendekatan berdiferensiasi maka kita semua wajib memperlakukan anak didik tidak “sama rata”.
Pentingkah PLS? Tentu sangat penting, terutama era pandemi. Perpeloncoan dan segala bentuk tugas yang memberatkan bagi anak didik harus dihindari. Guru, anak didik senior yang terlibat dalam PLS harus benar-benar melayani dan memuliakan anak didik agar Ia punya kesan pertama yang menggoda. Selanjutnya terserah Ia untuk belajar dengan gayanya, dengan potensinya.
Sebagai akhir tulisan, mengapa tidak ? Diakhir PLS ada apresiasi bagi anak didik baru yang terbaik, aktif, kolaboratif, serta memenuhi kriteria Profile Pelajar Pancasila. Bisa juga peserta PLS (anak didik baru) memilih senior (kaka kelas) yang sama-sama memiliki performa Profile Pelajar Pancasila. Anak didik, apalagi anak didik baru perlu aman, nyaman, berkembang dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada sekolah baru.











