Ragam

Pesan Dari Tasikmalaya

adminsigiku.com
×

Pesan Dari Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Bila benar kematian anak didik usia sekolah SD karena perundungan dan tersebarnya video di dunia maya, maka ini harus kita waspadai bersama. Mendikbud Nadiem Makarim sudah lama berpesan waspadai tiga dosa besar pendidikan kita. Dosa besar itu adalah perundungan, kekerasan seksual dan radikalisme.

Kalau kita mau jujur anak didik yang meninggal itu Ia merasakan ketiga bentuk dosa besar pendidikan. Pertama Ia mengalami perundungan, kedua Ia mengalami pelecehan seksual dengan kucing dan ketiga kekerasan tekanan teman sebaya. Ini ketiganya telah menimpa Sang Anak.

Harus kita waspadai bersama antara orangtua, guru dan masyarakat terkait fenomena baru kehidupan anak didik. Bila jaman doeloe ada istilah Tri Pusat Pendidikan yakni Sekolah, Keluarga dan Masyarakat (SKM). Ki Hajar Dewantara “memusatkan” pendidikan pada SKM. Saat ini sudah tidak demikian lagi.

Tri Pusat Pendidikan sudah menjadi tidak kontekstual. Dunia pendidikan sudah bertransformasi dalam bentuk yang lebih kompleks dan kontekstual. Maka Tri Pusat Pendidikian sudah menjadi kurang relevan. Kini menjadi Panca Pusat Pendidikan yakni Dunia Maya, Teman Sebaya, Sekolah, Keluarga dan Masyatakat (Dumatesskema).

Anak didik yang meninggal di Tasikmalaya lebih karena teman sebaya dan dunia maya. Waspadai realitas anak didik, mulai dari hal terdekatnya. Apa yang terdekat? Dunia maya dan teman sebaya. Dunia maya melekat dalam gadgetnya. Teman sebaya setiap hari ketemu dalam realitas dan maya.

Tidaklah heran perudungan dan kekerasan dilakukan secara langsung oleh temen sebaya dan tersebar di dunia maya. Teman sebaya dan dunia maya menjadi dua realitas yang sangat dekat dengan anak didik kita. Sementara orangtua, guru dan masyarakat jaraknya kalah melekat dengan dunia maya dan pertemanan sebaya.

Fakta sosialnya bisa jadi malah dunia maya lebih dominan menguasai anak didik kita dibanding dunia nyata. Dunia maya (internet) yang menawarkan kehidupan sosial maya dengan segala godaan dan fasilitasnya telah membuat semua anak didik adiktif dan sakau.

Termasuk anak didik usia SD yang meninggal di Tasikmalaya merasa stress karena Ia merasa sudah dihakimi oleh dimensi dunia maya, dimana Ia merasa “rahasia” dirinya tesebar ke semua orang. Terutama teman sebayanya. Ia merasa telah diperlakukan kerasa oleh dua dunia, yakni dunia realitas dan dunia maya.

Dunia pendidikan kita di era revolusi industry 4.0 dan era society harus benar-benar adaptatif, fleksibel dan feka pada tuntutan realitas. Bila dunia pendidikan kita masih melakukan layanan pendidikan dengan gaya lama, sementara realitas anak didik sudah berubah, maka layanan pendidikan kita sudah tidak relevan lagi. Ini bahaya!

Mendikbud Nadiem Makarim menghendaki kita semua entitas pendidikan agar “berhamba pada anak didik” artinya lakukan sebuah upaya fokus dan cerdas dalam memahami realitas anak didik saat ini.

Anak didik saat ini sudah beda dengan anak didik masa lalu yang masih belum mengenal jelimet dan kompleksitas bawaan dunia maya. Faktanya warga negara paling istimewa di seluruh bangsa dan dunia adalah anak didik.

Tidak ada warga negara dunia yang lebih istimewa dari anak didik. Berhamba pada anak didik adalah sebuah pesan sakral betapa pentingnya kita semua 100 persen memperhatikan dinamika transformasi anak didik agar layanan pendidikan relevan dan punya konektivitas pada entitas dinami anak didik.

Saatnya orangtua, guru, masyarakat dan pemerintah memahami paradigma baru terkait edukasi anak didik. Anak didik adalah warga negar yang hari ini “tak berdaya” karena belum dewasa dan mandiri, tergantung pada realitas sikon, namun mereka akan menjadi penghuni masa depan dan pengganti kita yang “berkuasa” saat ini, yakni kita orang dewasa.

Menjadi dewasa itu penting bagi kiita semua, namun lebih penting lagi adalah kita semua (orangtua, guru, masyarakat dan pemerintah) lebih dewasa dan waras dalam memahami realitas anak didik.

Pepatah bijak mengatakan sukses orangtua dapat dilihat dari apa yang terjadi dengan anaknya. Begitu pun sukses sebuah bangsa terkait bagaimana nasib generasi anak didiknya. Waspadalah!