Pewarta : Arief
Kota Sukabumi – Ketua TP PKK Propinsi Jawa Barat, Atalia Praratya, mengaku terpesona dengan berbagai suguhan seni budaya oleh santri dan santriwati Ponpes Modern Dzikir Al – Fath, mulai dari Pencak Silat, permainan Boles (Bola Leungeun Seuneu), Ngagotong Lisung, dan berbagai koleksi Benda Purbakala yang ada di Museum Prabu Siliwangi.
Kunjungan Atalia didampingi Wakil Ketua TP-PKK Jawa Barat, Lina Marlina beserta rombongan ke Pondok Pesantren Modern Dzikir Al – Fath tersebut, dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan program Sarling Jabar (Siaran Keliling Jawa Barat) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat.
“Terus terang saya merinding tadi, saat menyaksikan berbagai sajian seni budaya, oleh para santriwan dan santriwati,” ucapnya kepada awak media, Jum’at (26/08/2022).
Terkait Museum Prabu Siliwangi yang berada dilokasi tersebut, Atalia menganggap bahwa pimpinan Ponpes Dzikir Al – Fath, KH.M.Fajar Laksana adalah orang yang beruntung, karena menurutnya, tidak banyak orang yang diberi anugerah oleh Allah SWT, untuk bisa melihat bahkan menyimpan tanda – tanda kebesaran Sang Pencipta melalui benda – benda bersejarah yang ditemukan.
“Sebelumnya, apa yang saya lihat sekarang hanya sebatas bayangan, namun hari ini saya bisa melihat banyak sekali benda peninggalan zaman purbakala, seperti artefak – artefak juga benda lainnya, dari situ saya membayangkan betapa luar biasanya sejarah itu bisa membangun kita hingga hari ini,” tuturnya.
Ia berharap, Museum Prabu Siliwangi ini bisa lestari, tidak hanya yang berkaitan dengan sejarah yang memang diperlukan untuk membangun masa depan, tapi juga dalam bidang seni budayanya.
“Saya berharap, Ponpes Al – Fath ini bisa menghadirkan santri dan santriwati yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Sementara Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al – Fath, KH.M.Fajar Laksana mengaku bersyukur dengan apresiasi yang diberikan istri Gubernur Jawa Barat tersebut.
“Alhamdulillah, apresiasi ini menjadi motivasi bagi saya dan seluruh warga Ponpes Dzikir Al – Fath untuk terus semangat berkarya dan berprestasi dengan mengedepankan kearifan lokal,,” katanya.
Bahkan, lanjutnya, Seni Ngagotong Lisung sudah dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Propinsi Jawa Barat. Selain itu, Seni Boles sudah mengikuti festival seni budaya di Portugal dan menjadi pemenang dalam sebuah festival yang diselenggarakan oleh Sakarya University Turki.
“Salah satu seni budaya yang kita tonjolkan adalah Pencak Silat, dan karena Pencak Silat sudah diakui sebagai Warisan Seni Budaya Tak Benda Dunia, maka keberadaannya harus terus dipelihara dan dijaga, salah satunya dengan mengadakan berbagai even, karena kalau tidak, dikhawatirkan predikat yang telah disematkan kepada Pencak Silat dicabut lagi oleh PBB, untuk saya meminta kepada Gubernur Jawa Barat, untuk segera menjadikan Pencak Silat ini sebagai muatan lokal di semua tingkatan jenjang pendidikan,” ucapnya.













