OPINI/Artikel

Luka Itu Menyempurnakan

adminsigiku.com
×

Luka Itu Menyempurnakan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Kita semua tentu sepakat menghindari luka. Luka apa pun, luka hati, luka fisik, luka mental dan luka lainnya. Namun sahabat semua ternyata luka itu bila kita refleksi adalah bagian dari proses penyempurnaan kehidupan kita.

Saat seorang Ibu melahirkan, ternyata melintasi luka luar biasa. Saat seseorang menikah, ternyata melintasi luka. Saat seorang khitan, ternyata melintasi luka. Saat seseorang ingin sehat, seorang dokter mesti “melukai” pasiennya dengan jarum suntik.

Sungguh luka itu dalam hal tertentu ternyata sebuah proses penyempurnaan hidup manusia. Bahkan hidup pun disempurnakan dengan kematian. Lahir, hidup dan mati adalah siklus sempurna manusia.

Ada sebuah kisah cukup menginspirasi terkait luka. Luka apa? Luka kendaraan mewah yang dilempari anak kecil. Suatu saat seorang anak melempari sebuah sedan mewah. Sedan seharga 3 milyar itu, “terluka” oleh lemparan batu Sang Anak.

Si Pemilik sedan, berhenti dan langsung mendatangi Sang Anak yang melempar batu pada body kendaraannya. Sang Anak ketakutan saat Sang Pemilik sedang datang dan marah.

Sang Pemlik sambil marah, bertanya pada Sang Anak. Mengapa kamu melempari mobil Saya? Sang Anak sambil menggigil ketakutan menjawab, “Maaf, Saya melempar kendaraan karena sudah berjam-jam Saya mau menyebrangkan orangtua Saya yang sakit, tidak ada satu pun kendaraan yang mau berhenti”.

Selanjutnya Sang anak mengatakan, “Kami orang miskin yang tak punya apa-apa, dan kebetulan orangtua Saya sakit, mau menyeberang jalan”. “Sungguh orang-orang kaya tak peduli pada kami, tidak ada satu pun yang mau berhenti, tak peduli pada kami”.

“Padahal kami hanya meminta waktu dua menit saja untuk menyebrang, mengapa mereka tega dan tak peduli. Sebagai anak dan sangat sayang sama orangtua, Saya marah dan akhirnya tiada jalan lain dengan melemparkan batu”.

“Sungguh sangat beruntung orang-orang kaya, lalu lalang di jalan raya dengan ragam mobil mewahnya. Kami kendaraan saja tidak punya, bahkan hak kami untuk menyeberang pun terampas oleh orang-orang kaya yang tak punya waktu untuk berhenti”.

Sang Pemilik kendaraan, awalnya marah. Kini Ia introsfektif, dalam pikirannya, “Betapa sombongnya kami-kami orang kaya”. Awalnya Ia berpikir berapa juta, Ia harus memperbaiki sedikit luka di body kendaraan mewahnya ?.

Namun Sang Pemilik mengubah pikirannya, Ia berpikir luka dikendaraannya adalah “luka special” yakni luka yang menyempurnakan dan memberi peringatan dalam kehidupannya. Hal yang akan dihisab Allah kelak bukan harga mobilnya melainkann harga kepedulian pada sesama.

Bahkan Si Pemilik kendaraan mewah bisa semakin reflektif dengan kisah Sang Wanita nackal yang peduli pada seekor anjing yang kehausan. Apalagi bila peduli pada sesama manusia, anak kecil yang mau menyebrangkan orangtuanya yang sakit, tentu lebih mulia dan terampuni segala dosanya.

Sahabat pembaca dalam hal tertentu luka itu ternyata menyempurnakan kehidupan kita. Bila luka, kecewa, disakiti, dianiaya, dihina, direndahkan, dispelekan dan segala hal yang melukai diri dan mental kita, bisa jadi bila kita refleksi adalah sebuah proses penyempurnaan diri kita.

Kursi atau meja kayu jati indah yang tersaji di ruang tamu awalnya adalah pohon besar di tengah hutan. Melalui proses “pelukaan” yang luar biasa, jadilah kursi atau meja mewah yang harganya puluhan juta. Awalnya ditebang, digergaji, dipanasi, dipaku, dilukai tiada henti.

Duhai Allah, Tuhan yang maha Esa, duujung tulisan ini Saya mendokan semua umat manusia memasuki tahun 2023 lebih sejahtera dan bahagia semuanya. Kalau pun harus ada luka, luka yang menyempurnakan dan berujung sangat baik.