Pewarta : Avenk
Kabupaten Bogor – Benar kata pepatah, “Makin tinggi sebuah pohon akan makin kencang angin yang menghempas”. Hal ini dirasakan civitas akademika SMAN 1 Parungpanjang.
Awalnya SMAN 1 Parungpanjang adalah sekolah yang kurang dikenal, bahkan dianggap tiada, karena lokasinya yang jauh dari pemukiman penduduk ditambah risiko kecelakaan yang tidak kecil akibat ratusan truk berukuran besar berlalu-lalang, menyeramkan.
Namun kini setelah SMAN 1 Parungpanjang naik level jadi Sekolah Penggerak Angkatan Pertama, namanya mulai diperhitungkan. Saking bekennya, jumlah pendaftar SMAN 1 Parungpanjang pada PPDB melonjak drastis, padahal sejarah awalnya sekolah ini pernah kekurangan siswa, yakni dibawah 100 orang, namun kini siswanya diatas 1.000 orang.
Tidak hanya itu, seiring dengan kian berkembangnya sekolah yang berlokasi diperbatasan antara Propinsi Jawa Barat dan Banten ini, Sejumlah siswa berprestasi pun bermunculan, mulai dari Bidang Akademik sampai Olahraga.
Perkembangan pesat sekolah tersebut tidak hanya menuai banyak apresiasi, namun ada juga pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan sekolah ini sebagai “gossip” diskredit, termasuk sejumlah oknum wartawan yang menurut Kepala SMAN I Parungpanjang, Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., bersikap tak elok.
DNK menyebut, tak jarang oknum wartawan tersebut menaikan berita berdasarkan info yang salah, atau salah tulis dan salah persepsi. Sebagai kepala sekolah, DNK menduga saat ini banyak oknum yang hanya mengaku wartawan, padahal bukan. Bisa jadi mereka adalah mengaku wartawan yang tidak punya identitas dan minus SKW.
Menurutnya, LSP Pers Indonesia adalah satu-satunya lembaga sertifikasi profesi pers di Indonesia yang telah disahkan dan terlisensi secara resmi oleh negara melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Sertifikasi Kompetensi Wartawan (SKW) atau yang selama ini dikenal dengan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) kini diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pers Indonesia,” katanya.
DNK berharap, semua wartawan bisa mengikuti UKW dan berhasil mendapatkan Sertifikat Kompetensi Wartawan (SKW), sehingga dunia kewartawanan semakin baik dan dicintai masyarakat.
“Kasihan wartawan legal dan bersertifikat citranya rusak oleh oknum-oknum yang mengaku wartawan, padahal kualitasnya abal-abal,” ujarnya.













