Oleh : Dartem (Ibu Rumah Tangga)
Sebanyak 7.000 ton per bulan disalurkan oleh Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Bandung, dalam rangka program cadangan pangan pemerintah ( CPP) di wilayah Bandung Raya dan Sumedang, Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat (ANTARA)
Bulog Cabang Bandung mendapatkan tugas dari Bapanas ( Badan Pangan Nasional) untuk menyalurkan beras sebanyak 7.000 ton per bulan kepada masyarakat yang ada di kota Bandung, Cimahi, Sumedang, dan Bandung Barat ,” kata Erwin Budiana selaku pemimpin Cabang Bulog, di Bandung, Jabar, Jumat.
Program CPP berlangsung selama tiga bulan, yakni September hingga November 2023 dan akan menyalurkan bantuan komoditas beras sebanyak 21.000 ton.” Kata Erwin. Beras yang disalurkan adalah beras medium, dan akan dibagikan 20 kilogram beras perbulan untuk keluarga penerima manfaat sesuai yang ditugaskan oleh Bapanas ( Badan Pangan Nasional) kepada Bulog. Selain tugas untuk stabilisasi harga, Bulog menyalurkan beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan, juga gerakan pasar murah, dengan harapan setelah digelontorkan sebanyak mungkin, harga bisa menjadi stabil,”katanya.
Indonesia adalah daerah beriklim tropis dengan segudang kekayaan sumberdaya alam. Namun masalah kebutuhan pokok pangan masih menjaga polemik tak berkesudahan. Naiknya harga-harga bahan pokok terutama beras sangat mencekik rakyat saai ini. Harga beras semakin mahal, pengangguran semakin banyak, dan seabrek persoalan lain yang semakin membuat hati meringis. Upaya untuk menyelesaikan masalah dalam sistem kapitalis tidak akan pernah mampu memberi solusi yang tepat. Terbukti hingga hari inipun masalah ketahanan pangan termasuk beras tidak mampu diselesaikan dengan baik. Satu sisi, pemerintah ingin menekan harga beras agar harga tidak naik, disini lain, para petani sudah banyak kehilangan lahan untuk bertani menanam padi, lahannya semakin sempit akibat proyek insfratruktur yang digenjot secara jor-joran dengan biaya miliaran.
Dalam kapitalisme, Negara justru menomorsatukan pembangunan berbagai insfratruktur untuk menunjang kegiatan publik, namun abai dalam memperhatikan kondisi masyarakat dengan berbagai masalah yang membelit. Kesenjangan ekonomi semakin terlihat jelas. Bagaimana mungkin bisa menekan harga beras jika hasil pertanian di Indonesia justru menurun? Salah satu faktornya adalah, para petani sekarang ini sudah kecewa dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, selain karena lahan pertanian yang semakin menyempit akibat liberalisasi pembangunan.
Contohnya adalah ketika biaya produksi seperti pupuk dan bibit dan perawatan yang mahal tidak sebanding dengan hasil panen yang mereka dapatkan karena harga jualnya sangat murah. Itu terjadi karena disaat petani mau panen, pemerintah biasanya justru melakukan impor. Impor beras menjadi andalan pemerintah dalam menyesuaikan masalah kekurangan stok pangan. Dan itu sangat mungkin terjadi banyak kecurangan didalamnya seperti tindak korupsi dari atas hingga bawah. Sampai di tataran bawah yang mengurus pembagian bantuan beras biasanya tak mau ketinggalan. Maka, dengan pembagian bantuan beras yang dilakukan oleh pemerintah tetap tidak akan mampu menyelesaikan masalah dari akarnya, tapi justru sering menambah masalah semakin ruwet. Efeknya sering terjadi kekisruhan di masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, Masalah mahalnya bahan pokok termasuk beras adalah masalah sistemik, maka penyelesaian yang ditawarkan juga harus yang mendasar, bukan solusi pragmatis.
Islamlah satu-satunya harapan untuk dapat lepas dari berbagai permasalahan termasuk masalah ketahanan pangan dan mahalnya bahan pokok. Sistem ekonomi Islam akan mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Negara Islam adalah negara swasembada pangan sehingga menjadi negara adidaya yang kuat dan mandiri. Dari hasil pertanian yang dikelola oleh sistem ekonomi Islam, maka rakyat tidak akan pernah merasakan kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Karena tugas pemimpin (Khalifah) adalah memastikan bahwa semua rakyatnya tercukupi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan dan papan. Seorang pemimpin dalam Islam sangat memperhatikan kondisi rakyat yang dipimpinnya. Sejatinya, beras adalah kebutuhan dasar manusia, Sabda Rasulullah SAW,
“Siapa di antara kalian yang berada pada waktu pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Pemimpin adalah raa’in ( pengurus urusan rakyat), takut dengan Allah SWT karena segala tindakan yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Kepempimpinan berbasis aqidah hanya ada dalam sistem Islam, bukan demokrasi. Begitulah Indahnya Islam sebagai solusi hakiki hanya bisa terwujud jika syariah islam diterapkan secara kaffah dalam institusi Daulah Islamiyyah.
Wallahu a’lam bishawab.











