OPINI/Artikel

Santri Menusuk Pasutri, Potret Buram Sistem Pendidikan Pertiwi

adminsigiku.com
×

Santri Menusuk Pasutri, Potret Buram Sistem Pendidikan Pertiwi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sri M Awaliyah (Guru SD di Kab. Bandung)

Santri menusuk pasangan suami istri (pasutri) dengan sebilah pisau di kawasan Baleendah Kabupaten Bandung diringkus polisi. Mirisnya, pemicu penusukan hanya karena pelaku merasa salah satu korban menatapnya dengan sinis saat melintas di warung korban. Namun demikian pelaku juga mengaku saat itu tengah kesal karena menjadi korban perundungan verbal teman-temannya di pondok pesantren. Kapolresta Bandung mengungkapkan pelaku mencoba melarikan diri dari pondok pesantren karena kesal sering menjadi korban perundungan. Polisi juga menghimbau agar anak-anak usia sekolah, agar tidak melakukan perundungan karena selain bisa menjadi tindak pidana juga bisa mengakibatkan berbagai efek. (www.beritasatu.com)

Makin hari efek dari bullying makin sadis dan bengis. Melihat kondisi yang makin parah, sudah seharusnya kasus ini menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan pendidikan. Kejadian yang terus berulang menunjukan bahwa bahaya bullying atau perundungan masih mengintai.

Adanya peningkatan kasus bullying secara signifikan dan menelan banyak korban jiwa, sudah semestinya bullying menjadi emergency case yang harus secepatnya diselesaikan secara komprehensif bukan sekadar sibuk menyiapkan regulasi, anggaran, program namun juga dicari akar penyebab meningkatnya perilaku sadis dan bengis pada anak yang menjadi tren hari ini.

Konsep pendidikan yang berbasis sekuler liberal tak dapat dipungkiri sebagai pembentuk utama perilaku anak. Asas sekuler liberal ini telah meracuni pemikiran masyarakat sehingga tanpa sadar mewarnai pola pendidikan baik di keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Dalam sistem kehidupan sekuler, anak sangat minim di bentengi dengan akidah agamanya. Kurikulum pendidikan yang dirancang oleh negara pun jauh dari menjadikan agama sebagai dasarnya. Bahkan, tren perilaku liberal menghalalkan anak berperilaku sesukanya. Sistem kehidupan sekularisme liberal telah menjadi biang kerok atas rusaknya generasi bangsa

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang terbukti mampu mencetak generasi unggul pengisi peradaban emas. Seperti Ali bin Abi Thalib, dia adalah pemuda yang pertama kali masuk Islam, melalui didikan Rasulullah SAW Ali bin Abi Thalib tumbuh menjadi mujahid Islam yang senantiasa ikut berperang membela Islam. Mus’ab bin Umair pemuda tampan dan kaya raya, rela meninggalkan hartanya demi melaksanakan amanah suci membawa dakwah Islam sampai ke Madinah.

Belum pula lahir empat imam Mazhab yang ahli hukum Islam kemudian ditambah lagi para ilmuwan muslim yang berperan penting dalam sains dan teknologi, seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Jabbir Hayyam, Ibnu Rusydi dan masih banyak lagi.

Kegemilangan generasi yang tercipta pada zaman peradaban Islam tercipta dari penerapan syariah Islam dalam segala segala aspek kehidupan. Akidah Islam dijadikan dasar atas segala aturan melahirkan jiwa-jiwa yang taat pada syariat baik penguasa maupun rakyatnya. Sehingga tidak mungkin akan tercipta anak berperilaku sadis dan bengis karena adanya kontrol dari negara, masyarakat dan keluarga.

Wallahu a’lam bish-shawab.