OPINI/Artikel

Kesadaran Politik Gen Z Menggunakan Teknologi Untuk Menguji Janji Kampanye

adminsigiku.com
×

Kesadaran Politik Gen Z Menggunakan Teknologi Untuk Menguji Janji Kampanye

Sebarkan artikel ini

Oleh: Heni Ruslaeni

Generasi Z di Kabupaten Bandung mengambil inisiatif untuk menilai kemampuan para calon Bupati dalam memimpin. Mengadakan acara khusus untuk menilai kapabilitas calon bupati yang akan memimpin daerah mereka. Dari semua calon bupati, hanya Dadang Supriatna yang berani hadir dalam acara tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa calon ini terbuka terhadap masukan dan kritik dari generasi muda, yang mungkin menunjukkan keterbukaannya dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat. Calon-calon bupati lainnya tidak hadir mungkin menjadi sorotan, terutama dalam hal transparansi dan keberanian mereka untuk diuji kapabilitasnya di depan generasi muda.

Gen Z tampak proaktif dalam menguji kapabilitas calon pemimpin daerah. Ini menunjukkan kesadaran politik dan kepedulian mereka terhadap siapa yang akan depan. Karena sadar atau tidak masyarakat termasuk gen Z melek akan yang terjadi dalam kepemimpinan sekarang. Negeri ini sudah mengalami pergantian pemimpin sebanyak tujuh kali, tetapi tidak satu pun dari seluruhnya mampu menuntaskan problem klasik yang sudah menahun, seperti penjajahan SDA oleh asing, kemiskinan, stunting, kesejahteraan, dan sebagainya. Artinya, pergantian pemimpin tidak akan efektif jika masih berkutat pada sistem yang sama. Wajah pemimpin boleh saja berganti, tetapi sistem pemerintahan yang berjalan tetap saja kapitalisme demokrasi.

Sistem ini juga membuat masyarakat merasa cukup puas memiliki pemimpin di balik kertas suara tiap lima tahunan, menjadikan umat lupa akan jati diri mereka sebagai umat terbaik, serta melalaikan potensi Islam untuk tampil sebagai negara adidaya.

Dalam Islam, perkara kepemimpinan menjadi urusan penting. Dari sinilah bala dan berkah itu terjadi. Syaikhul Islam menjelaskan dalam karyanya As-Siyasah asy-Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik, “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Ini karena kepemimpinan yang ideal itu memiliki dua sifat dasar, yakni kuat (mampu) dan amanah.”

Mengemban amanah kepemimpinan itu tidak semudah mengucap, tidak pula sekadar tebar pesona ke rakyat. Pemimpin kuat adalah mereka yang tidak tersandera kepentingan partai, golongan, apalagi menghamba kepada penjajah dan kaum kafir. Kepemimpinan kuat adalah sikap berani melawan kezaliman dan menerapkan syariat Islam yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kepemimpinan itu amanah. Seorang pemimpin hakikatnya adalah mengemban amanah Allah dan mandat dari rakyat. Amanah itu mengandung segala konsekuensi dan risiko dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’alam bishshawab.