Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sungguh nikmat yang Allah berikan pada manusia sebagai makhluk yang dicintainya sangatlah istimewa. Hal istimewa itu diantaranya adalah ketika mudik berkaitan dengan momen hari raya Idul Fitri.
Mudik bagi sebagian orang yang benar benar mensyukurinya dirasa melintasi Surga. Mengapa demikian ? Karena mudik identik bertemu orang yang paling kita cintai. Sangat kita cintai dan rindu tiada tara.
Cinta dan rindu tiada tara itu tertuju pada kedua orangtua yang ada di kampung halaman. Bagi sejumlah orang yang kini tidak punya lagi kedua orangtua, mudik terasa hambar dan kurang bermakna.
Sungguh beruntung para pemudik yang masih ada kedua orangtua di kampung halamannya. Mudik ke kampung halaman, berjumpa dengan kedua orangtua dan keluarga, nikmatnya melintasi Surga.
Bukankah Surga di bawah telapak kaki ibu ? Bukankah bertemu Ibu kandung di kampung halaman lebih indah dari imajinasi Surga ? Apalagi bagi semua anak yang kini kedua orangtuanya sudah tiada. Sungguh Surga pun tak sebanding dengan keberadaan keduanya.
Wahai sahabat ku yang mudik, bersyukurlah ketika masih diberi nikmat mudik dan ketemu kedua orangtua. Allah maha indah dengan menghadirkan keberadaan orangtua yang masih ada dan sehat.
Menatap wajah, mencium tangan dan memberi sesuatu pada kedua orangtua adalah hal terindah tiada tara. Andaikan saya hari ini ditanya, “Mau berkunjung ke Surga atau mau bertemu kedua orangtua ?”.
Jawaban saya tentu lebih utama bertemu kedua orangtua yang sangat kami rindukan. Sungguh saya tidak merindukan Surga di atas rindu pada kedua orangtua. Wahai sahabat yang masih punya kedua orangtua, jagalah mereka dengan sebaik baiknya.
Tulisan ini pun saya buat dalam hati yang merindu tiada tara pada kedua orangtua. Jujur keberadaan keduanya orangtua jauh melintasi Surga. Ku Tak Rindu Surga, Ku Hanya Rindu Pada Ibu Dan Bapak Ku.
Duhai Allah sayangi mereka sebagaimana mereka kedua orangtua ku menyayangi ku. Hanya do’a dan air mata di hari raya yang bisa meleleh menyertai kerinduan tiada tara pada keduanya.
William Penn mengatakan, “Disamping Tuhan, orangtua mu.” Kata ini menjelaskan bahwa derajat apa pun berada di bawah Tuhan dan kedua orangtua kita.











