Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Anak didik di zaman ini hidup di era dua dunia. Dunia maya, dunia realita, dunia medsos, dunia sosialita. Sangatlah tak mudah para orangtua dan guru dalam mendidik anak saat ini.
Faktanya, anak didik secara fisik ada di dunia nyata, namun bisa jadi secara psikologis mereka semua berada di dunia maya. Mereka terbelah dalam dua pribadi.
Pribadi sebagai warganet/medsos dan pribadi sebagai warga masyarakat. Setiap anak didik identik menjadi warga Tiktok, IG, WA, Twitter. Ia pun menjadi warga rumah, sekolah dan masyarakat.
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sangat memahami realitas anak didik di zaman ini. Tidak lah heran sejumlah upaya Ia lakukan. Termasuk pembatasan penggunaan HP di entitas anak didik.
Spirit Gapura Panca Waluya yang saat ini diinjeksikan pada program unggulan Jawa Barat, adalah sebuah upaya. Bila secara nasional kita mengenal Profile Pelajar Pancasila, sesuai idelogi negara.
Maka Gapura Panca Waluya adalah sebuah implementasi secara esensi Profile Pelajar Pancasila dalam kebatinan dan spirit orang Sunda, Jawa Barat.
Spirit Panca Waluya itu adalah diidealkan, diinginkan lahirnya karakter anak didik yang : 1) Cageur (sehat), 2) Bageur (baik hati), 3) Bener (jujur), 4) Pinter (cerdas) dan 5) Singer (terampil).
Indonesia Emas 2045 bagi Jawa Barat adalah lahirnya masyarakat masa depan yang berkarakter Panca Waluya. Pribadi yang sehat, baik hati, amanah, cerdas dan terampil, apa pun tantangannya.
Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan bahwa rakyat Jawa Barat harus istimewa. Dimulai dari mana? Diantaranya mulai dari entitas ASN yang menjadi pelayan masyarakat.
Bila kita kaitkan dengan ASN guru, maka semua guru harus istimewa dalam melayani anak didik. Semua guru harus memastikan anak didik menjadi istimewa. Istimewa versi Herman Suryatman identik nilai 90.
Anak istimewa, lahir dari ASN guru yang istimewa. ASN guru yang tidak malayani anak didik dengan baik, biasa biasa saja, Herman Suryatman labeli dholim.
ASN guru yang bekerja asal, asal kerja dan tidak berdampak pada anak didik dholim. Mengingat sulitnya mencari kerja, dan tak mudahnya menjadi ASN, maka yang leha leha adalah dholim.
Pepatah bijak mengatakan “Ekor mengikuti kepala”. Termasuk untuk melahirkan generasi Panca Waluya, maka entitas guru terutama ASN wajib berkarakter Panca Waluya. Jangan dholim!











