Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Selalu saya katakan, “Tidak ada profesi yang paling istimewa di muka bumi selain menjadi guru”. Bahkan sering saya ajak, “Ayo siapa yang mau berdebat dengan saya terkait keistimewaan profesi guru”. Tentu saja guru yang profesional dan fungsional.
Hamdallah hari ini saya masuk ruang kelas, bertemu dengan warga negara paling istimewa di muka bumi, yakni murid murid ku tercinta, kelas 12. Dari usia, dari fisik dan dari kesehatan, murid kelas 12 benar benar istimewa. Mereka adalah entitas paling wow, ras paling istimewa.
Secara fisik sangat ok. Secara kesehatan sangat ok. Secara usia sangat ok, punya waktu yang sangat panjang menuju masa depan. Itulah murid murid SMA kelas 12. Tidak lama lagi mereka akan menjadi pribadi dewasa dan harus mandiri menghadapi tantangan dan dinamika kehidupan.
Masalahnya adalah akankah mereka menjadi petarung, pemenang terbaik di masa depan? Atau hanya akan menjadi pecundang dan warga negara yang tersisihkan? Ini adalah realitas pilihan, antara menjadi petarung yang menang atau petarung yang kalah dan menjadi pecundang?
Seorang petinju yang mukanya bengkak, pelipisnya sobek, tapi memenangkan sebuah pertandingan, tetaplah sukses dan berhasil. Petinju profesional bisa menjadi orang kaya dan sukses sekali pun terluka menjadi pilihan yang tak dapat ditolak dalam sebuah pertandingan.
Dibanding seorang pemalas, muka, wajah dan badannya aman tapi hidup terpinggirkan dan miskin, lebih baik menjadi petinju sukses walau muka dan wajahnya terluka dan bengkak. Luka sebenarnya dari kehidupan adalah menjadi pecundang dan terpinggirkan.
Harus dipastikan setiap murid terutama kelas 12 memiliki mimpi, visi misi yang jelas dan menyala. Dibutuhkan guru guru yang mampu memberikan asupan, intervensi dan provokadik (provokasi mendidik) bagi setiap murid SMA. Mereka tak lama lagi akan hidup mandiri.
Dalam ruang kelas saya sampaikan “Ketika kumis mu mulai tumbuh dan bulu bulu mu mulai bermunculan, dan ada yang membesar dalam sekitar tubuh mu, maka pastikan bahwa akhlak, karakter, pengetahuan, keterampilan harus lebih bertumbuh”. Pola pikir harus bertumbuh seirama dengan badan yang bertumbuh.
Growt mindset harus lebih mengemuka dan bertumbuh dari growt bodyset. Hormon pertumbuhan atau human growth hormone (HGH) tentu saja alami bertumbuh, tapi pola pikir tidak alami bertumbuh. Perlu belajar keras dan cerdas untuk mengimbangi dan melampaui body growt.
Bulu, kumis dan bagian badan lain boleh tumbuh secara alami, tapi pola pikir harus jauh lebih tumbuh. Saya katakan pada murid kelas 12, “Tahukah kalian indikator bensin pada speedometer kendaraan?”. Ada indikator E, ada indikator F. Keduanya akan menentukan sebuah perjalanan kendaraan.
Pastikan kalian kalau bawa kendaraan speedometer bensinya F, full. Hindari speedometer E, emergency. Hanya kendaraan yang full yang bisa menempuh perjalanan jauh dan menuju lokasi yang diimpikan. Bila E, emergency, tentu tak bisa kemana mana. Perjalanan akan gagal dan lokasi yang diimpikan hanya ada dalam impian, tak bisa menjadi realitas.
Saya katakan, “Jadilah pribadi yang full karakter, full akhlat terbaik, full keterampilan terbaik, full pengetahuan terbaik, full attitude terbaik, full spiritualitas, full kesadaran/mindfulness, full vibrasi positif”. Itulah yang murid harus persiapkan menuju kemandirian dan kemasadepanan.
Secara tidak langsung saya katakan, “Bukan wajah mu, ganteng mu, cantik mu, anak siapa kamu dan apa agama mu yang menentukan kalian sukses, melainkan bagaimana akhlak dan karakter mu, itulah modal utama mu”. Ungkapan bijak mengatakan “Akhlak mu, masa depan mu”.
Alam semesta tak peduli wajah mu, berat badan mu dan agama mu. Alam semesta hanya mengerti dan peduli vibrasi akhlak mu. Siapa saja yang menanam kebaikan maka buah kebaikan akan bisa dipetik kemudian. Alam manusia butuh KTP dan identitas, alam semesta hanya butuh vibrasi positif.
Vibrasi positif itu diantaranya adalah selalu eling pada Ilahi, selalu basmallah dalam mengawali aktivitas dan selalu yakin akan datangnya kebaikan dan keberkahan, dari apa pun realitas yang dialami. Apa pun bisa jadi rezeki. Rezeki adalah apa pun yang membuat kita bertumbuh lebih baik.











