Transformasi VS “Normalisasi”

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dr. Purwanto, M.Pd., mengatakan, “Betapa pentingnya manajemen kelas, pastikan di ruang kelas ekspresi anak tersalurkan, termasuk karya anak diapresiasi di ruang-ruang kelas”. Ruang kelas bagi Kadisdik Jawa Barat ini sangat penting dikelola dengan optimal.

Ia pun mengatakan pastikan guru mata pelajaran dan wali kelas terkoneksi. Ada konektivitas antara guru mata pelajaran dan guru wali kelas. Konektivitas ini terkait pelayanan optimal pada dinamika potensi anak didik. Walas dan guru mata pelajaran sejatinya “kopel” demi anak didik.

Bagi Dr. Purwanto, anak didik belajar tidak hanya mengandalkan apa yang ada di otak/pikiran. Apa yang dilihat anak didik bisa jadi objek belajar. Sekolah kotor, sampah menumpuk, sungai kotor, bisa jadi objek belajar. Alam sekitar bisa jadi media pembelajaran.

Dr. Purwanto mengajak para pendidik untuk transformatif dan kolaboratif semua pihak terkait, dalam upaya memperbaiki dunia pendidikan. Perubahan / tranformasi dan kerjasama / kolaborasi berbagai pihak dalam dimensi layanan pendidikan sangatlah penting.

Dr. Purwanto mengajak untuk menghindari mental “normalisasi”, menganggap normal hal hal tak wajar, tak positif dan tak sehat di dunia sekolahan. Mental “normalisasi” harus diganti dengan mental transformasi. Semua pihak harus sadar untuk berubah lebih baik.

Saat ini menurut Dr. Purwanto ada krisis kemanusiaan, terjadi dalam masyarakat kita. Apa itu? Tiada lain adalah ”Tidak Terpanggil Untuk Berbuat”. Memilih diam daripada aktif melakukan hal sehat, konstruktif dan kontributif. Diam dan tidak ambil bagian adalah krisis mental kolektif kita.

Transformasi pendidikan di Jawa Barat bila dilakukan semua warga pendidikan, bisa melahirkan Jabar Istimewa. Jabar istimewa bisa lahir dari keterpanggilan semua pihak untuk berbuat, ambil bagian, menuju perubahan yang lebih baik.

Jangan sampai “normalisasi” mengalahkan proses transformasi. Normalisasi identik dengan mental konservatif, membiarkan dan menganggap normal sikon yang tak positif. Transformasi mengubah hal atau sikon kurang positif menjadi sangat positif.

Dr. Purwanto mengajak transformasi pendidikan bagi anak didik, mulai dari ruang kelas dan sekolahan. Pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, hindari kebiasaan “normalisasi” pada hal hal yang kurang positif dalam berbagai hal.

Selamat tinggal budaya “normalisasi”, selamat datang spirit transformasi. Mari semua pihak terutama warga almamater menyalakan lilin bersama, menuju masa depan yang lebih terang. Tinggalkan gelap dan remang remang, menuju dimensi masa depan yang cemerlang.