Pewarta : Anis
Ambon – Masa kepemimpinan Gubernur Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdul Vanath kini telah memasuki tahun pertama. Meski diwarnai berbagai isu, termasuk kabar keretakan di antara keduanya, kepemimpinan dua tokoh tersebut tetap memberikan kontribusi terhadap kemajuan pembangunan di Provinsi Maluku.
Dalam keterangannya usai pelantikan pejabat eselon II di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Jumat (20/2/2026), Hendrik mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan selama setahun masa kepemimpinannya.
“Dalam satu tahun ini, ada banyak capaian yang kita peroleh, tetapi juga ada hal-hal yang belum tercapai,” ujar Hendrik.
Ia merinci sejumlah indikator makro yang menunjukkan perkembangan positif di Maluku. Menurutnya, beberapa sektor strategis telah mengalami perbaikan signifikan dibandingkan kondisi awal kepemimpinannya.
“Awalnya kita berada di zona merah, sekarang sudah masuk zona hijau. Masih banyak capaian lain, meski saya tidak hafal satu per satu,” kata Hendrik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan berpuas diri. Berbagai program prioritas yang belum terealisasi akan terus didorong agar dapat diwujudkan dalam waktu mendatang.
“Masih banyak yang belum kita lakukan. Kami berkomitmen untuk terus bekerja keras, didukung aparatur yang melayani dengan arahan yang jelas agar seluruh rencana pembangunan dapat tercapai,” ujarnya.
Hendrik juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun Maluku. Ia menyebut pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.
“Kami tidak mungkin bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan semua pihak dan seluruh stakeholder untuk memajukan Maluku,” ucap Lewerissa.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan, tantangan yang dihadapi Pemerintah Provinsi Maluku tentu tidak ringan. Konsistensi dalam menjaga stabilitas pemerintahan, memperkuat sinergi antara gubernur dan wakil gubernur, serta memastikan program prioritas benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan ke depan.
Pengakuan atas berbagai PR yang belum tuntas menjadi refleksi penting bahwa pembangunan adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kerja kolektif, komitmen kuat, serta pengawasan publik agar arah kemajuan Maluku tetap berada di jalur yang diharapkan.













