Pewarta : Lina SC
Kab. Bandung Barat – Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, tak mau setengah hati. Ia siap membongkar praktik percaloan yang selama ini diduga menjadi “penyakit kronis” dalam pelayanan publik di daerahnya. Pemicu langkah keras ini bukan kasus besar, melainkan kisah sederhana yang justru membuka borok sistem.
Seorang ibu muda asal Desa Cibitung, Kecamatan Rongga, kesulitan mengurus Akta Kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) secara mandiri. Ironisnya, dokumen yang berbelit itu justru bisa selesai cepat, asal lewat calo, dengan tarif Rp. 160 ribu.
Bagi Jeje, ini bukan sekadar keluhan warga. Ini alarm keras adanya permainan di balik meja.
“Saya akan minta kontak calonya. Saya ingin tahu, dia bisa akses siapa di dalam,” tegas Jeje usai menemui korban di Mall Pelayanan Publik (MPP) Bandung Barat.
Ia menduga kuat ada “orang dalam” yang membuka jalan bagi para calo. Jika terbukti, sanksinya tak main-main.
“Kalau ada ASN atau pejabat yang terlibat, bisa dipecat tidak hormat,” katanya lugas.
Kasus yang dialami Siti Bariah (25) kini menjadi pintu masuk untuk membongkar lebih dalam praktik yang merusak kepercayaan publik tersebut.
Jeje memastikan investigasi akan dilakukan menyeluruh—bukan hanya mencari pelaku, tapi juga menelusuri celah sistem yang dimanfaatkan.
“Kita cari dulu di mana titik salahnya. Setelah itu, baru kita rombak,” ujarnya.
Pesannya jelas, evaluasi tanpa perubahan adalah omong kosong.
“Kalau tidak ada perbaikan, buat apa dievaluasi ?” tandasnya.
Kini, publik menunggu, apakah gebrakan ini benar-benar akan membersihkan praktik calo sampai ke akarnya, atau kembali berhenti di janji.













