Pewarta : A Y Saputra
Kabupaten Ciamis – Baresan Nonoman Cisaga Gelar Budaya “Ngamumule Kabudayan Tinggal Karuhun Galuh” bertempat di Alun-alun Desa Mekarmukti, Kecamatan Cisaga, Minggu (3/5/2026)
tidak sekadar menjadi panggung ekspresi seni. Kegiatan ini justru memperlihatkan bagaimana kebijakan budaya Pemerintah Kabupaten Ciamis dijalankan secara konkret di tengah masyarakat.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya melalui Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Dian Budiana menegaskan bahwa gelar budaya merupakan bagian dari implementasi regulasi daerah. “Gelar seni budaya ‘Ngamumule Kabudayaan Tinggal Karuhun Galuh’ terimplementasi sesuai Perda Kabupaten Ciamis Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan kegiatan budaya sebagai instrumen pembangunan, bukan sekadar agenda seremonial.
BUDAYA DIARAHKAN JADI INSTRUMEN PEMBANGUNAN
Pemerintah daerah melihat kebudayaan sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat.
Dian menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Gelar budaya ini menyelaraskan tradisi dengan tren dan kebutuhan zaman sekarang,” katanya.
Pendekatan ini memperlihatkan upaya pemerintah dalam menjaga relevansi budaya di tengah perubahan sosial yang cepat.
Lebih jauh.
Pemkab Ciamis menempatkan generasi muda sebagai target utama. “Gelar budaya tidak hanya menjadi ajang hiburan tapi menjadi sarana edukasi untuk generasi muda agar lebih mengenal dan memahami akar budaya yang ada di Tatar Galuh Ciamis,” lanjutnya.
Pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Kegiatan ini dinilai sebagai hasil kerja kolektif masyarakat dalam menjaga identitas budaya.
“Kami atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis memberikan apresiasi yang sangat tinggi dan mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada jajaran panitia serta seluruh masyarakat,” ucap Dian
Apresiasi itu sekaligus menjadi pengakuan bahwa pelestarian budaya tidak bisa berjalan tanpa keterlibatan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut Baresan Nonoman Cisaga tampil sebagai motor penggerak kegiatan. Mereka menghadirkan berbagai tokoh lintas budaya dan agama, seperti Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis Yat Rospia Brata dan Ketua Persatean Pesantren Ortodok Haji Duleh.
Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan bahwa budaya menjadi titik temu yang menyatukan beragam perspektif, baik tradisional maupun religius.
Edukator Islami asal Tatar Galuh, Andi Ali Fikri, memberikan sudut pandang yang memperkaya diskursus budaya. Ia menilai bahwa praktik budaya leluhur memiliki landasan ilmiah dan spiritual.
“Beberapa ritual yang ada dulu hingga sekarang ternyata ada penjelasan secara ilmiah dan ada keterangan jelas di beberapa kitab para ulama besar Islam, bahkan ada yang tersirat di dalam Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan sejarah. “Moal Aya ayeuna Mun teu Aya baheula,” katanya.
Dalam pemaparannya, Andi menjelaskan konsep purwadaksi sebagai panduan hidup masyarakat Galuh. “Purwadaksi, Purwa adalah asal dan daksi adalah tujuan,” tegasnya. Filosofi ini menekankan bahwa setiap tindakan memiliki arah dan tujuan yang jelas.
Ia juga mengaitkan praktik budaya dengan pelestarian lingkungan. Ritual seperti pembakaran kemenyan, menurutnya, memiliki fungsi praktis. “Fungsi membawa parupuyan dan pembakaran menyan sambil berkeliling di sawah merupakan ritual untuk mengusir hama bukan untuk menghancurkan,” ujarnya.
Selain nilai filosofis, kegiatan ini juga mengangkat kekayaan lokal seperti pohon saga yang menjadi bagian dari sejarah Cisaga. Tanaman ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga manfaat kesehatan dan konstruksi.
“Tolong jaga dan lestarikan pohon Saga,” pesan Andi.
Di sisi lain, nilai-nilai keagamaan seperti tawasul juga menjadi bagian dari penguatan sosial.
“Tawasul merupakan jembatan silaturahmi,” ujarnya.













