Peristiwa

Viral TKW Asal Cianjur Menangis Bersimbah Darah di Libya, Diduga Jadi Korban TPPO

adminsigiku.com
×

Viral TKW Asal Cianjur Menangis Bersimbah Darah di Libya, Diduga Jadi Korban TPPO

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Arief

Kabupaten Cianjur – Sebuah video yang memperlihatkan seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menangis dengan wajah berlumuran darah sambil memohon dipulangkan ke Indonesia viral di media sosial. Perempuan tersebut diketahui bernama Ai Juariah (43), warga Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Libya.

Dalam video berdurasi 59 detik, Ai tampak menangis histeris sambil mengusap darah yang mengalir dari hidungnya. Dengan suara bergetar, ia meminta pertolongan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar dapat segera dipulangkan ke Tanah Air.

Ai mengaku sudah tidak lagi sanggup menjalani pekerjaannya karena beban kerja yang dinilai melampaui kemampuan fisiknya. Kondisi tersebut, menurut pengakuannya, turut berdampak pada kesehatan mentalnya.

Camat Ciranjang, Hendri Prasetyadhi, membenarkan bahwa perempuan dalam video viral tersebut merupakan warganya yang telah bekerja di Libya selama kurang lebih 14 bulan.

“Benar, perempuan yang ada di video viral tersebut merupakan warga kami bernama Ai Juariah asal Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang. Beliau bekerja sebagai ART di Libya sejak sekitar 14 bulan lalu,” ujar Hendri, Minggu (28/6/2026).

Diduga Menjadi Korban TPPO

Hendri mengungkapkan Ai diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dugaan tersebut muncul karena sejak awal keberangkatan, keluarga tidak pernah menerima dokumen resmi maupun informasi lengkap mengenai proses penempatan Ai untuk bekerja di Libya.

Berdasarkan keterangan keluarga, Ai diduga mengalami eksploitasi selama bekerja. Ia disebut dipaksa menjalani pekerjaan dengan beban yang sangat berat tanpa waktu istirahat yang memadai.

“Luka yang dialaminya, berdasarkan informasi dari keluarga, terjadi setelah Ai terjatuh karena sudah tidak kuat dengan beban pekerjaan yang diberikan majikannya di Libya. Selama bekerja, diketahui Ai sudah lima kali berpindah majikan,” jelas Hendri.

Pemerintah Kecamatan Ciranjang akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur untuk menelusuri proses keberangkatan Ai, termasuk memastikan apakah seluruh prosedur penempatan tenaga kerja telah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami akan menelusuri seluruh dokumen pemberangkatan dan memastikan apakah prosesnya sesuai prosedur atau justru terdapat pelanggaran,” katanya.

Keluarga Kesulitan Menghubungi Sponsor

Suami Ai, Ujang Suryana, mengaku tidak pernah menerima salinan dokumen resmi terkait keberangkatan istrinya ke Libya. Menurutnya, saat itu ia hanya diminta menandatangani surat persetujuan sebagai suami oleh pihak sponsor.

“Sejak istri saya berangkat 14 bulan lalu, saya hanya diminta menandatangani surat izin suami yang dibawa oleh pihak sponsor,” ujar Ujang.

Ia juga mengaku hingga kini kesulitan menghubungi sponsor yang memberangkatkan istrinya. Bahkan setelah video Ai viral di media sosial, pihak sponsor disebut tidak lagi dapat dihubungi.

Ujang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melacak keberadaan Ai sekaligus memfasilitasi proses pemulangannya ke Indonesia.

“Saya sangat berharap pemerintah bisa segera menemukan keberadaan istri saya dan memulangkannya. Kami sangat khawatir dengan kondisi yang dialaminya di Libya,” tuturnya.