PSEL Kayumanis Ditargetkan Ground Breaking November 2026, Pemkot Bogor Genjot Pembangunan Akses Jalan

0

Pewarta : Red

Kota Bogor – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mempercepat persiapan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kayumanis. Proyek strategis tersebut ditargetkan memasuki tahap ground breaking pada November 2026, setelah pembangunan PSEL Galuga dijadwalkan lebih dulu dimulai pada awal Agustus.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meninjau langsung lokasi proyek di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Selasa (21/7/2026). Saat ini, pekerjaan difokuskan pada pembangunan akses jalan menuju kawasan PSEL sepanjang sekitar 1,65 kilometer yang terhubung dari ujung Tol Bogor Outer Ring Road (BORR).

Di lokasi, alat berat terlihat melakukan pemadatan jalur akses, sementara pembangunan bronjong di sekitar aliran Sungai Angke juga dikerjakan untuk memperkuat struktur kawasan. Menurut Dedie, masih terdapat sejumlah titik yang perlu disempurnakan agar dapat dilalui kendaraan pengangkut sampah secara optimal.

“Ground breaking PSEL Galuga direncanakan awal Agustus, sedangkan PSEL Bogor Raya di Kayumanis ditargetkan pada November,” ujar Dedie.

Ia menjelaskan, pembangunan PSEL Kayumanis merupakan hasil proses panjang yang melibatkan dukungan pemerintah pusat hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dari aspek perencanaan tata ruang, proyek tersebut juga telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang menetapkan kawasan tersebut sebagai zona Waste to Energy.

Pemkot Bogor menargetkan seluruh pekerjaan awal, termasuk pembangunan akses jalan, rampung sebelum pelaksanaan peletakan batu pertama. Tahap awal dilakukan melalui pemadatan jalan menggunakan anggaran rutin, kemudian dilanjutkan dengan betonisasi untuk mendukung operasional kendaraan berat.

Mampu Olah 1.000 Ton Sampah per Hari

PSEL Kayumanis dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari. Sementara itu, PSEL Galuga diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap hari.

Kehadiran dua fasilitas tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah di wilayah Bogor, sekaligus menghasilkan energi listrik dari proses pengolahan sampah.

Dedie juga membuka peluang kerja sama regional dengan daerah sekitar, seperti Kota Depok dan Kabupaten Bogor, agar fasilitas PSEL dapat dimanfaatkan secara bersama.

Menurutnya, paradigma pengelolaan sampah harus berubah dari sekadar membuang menjadi mengolah sampah agar memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dilengkapi IPAL dan Fasilitas Pengolahan Residu

Selain menghasilkan energi listrik, kawasan PSEL Kayumanis akan dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) skala kota. Residu hasil pembakaran insinerator juga akan diproses melalui Fly Ash and Bottom Ash (FABA) Plant, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk konstruksi seperti paving block, kanstin, hingga material bangunan lainnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Rino Indira Gusniawan memastikan kebutuhan air untuk operasional PSEL tidak akan mengganggu pasokan air bersih bagi masyarakat.

Perumda Tirta Pakuan telah menyiapkan tiga skema penyediaan air, yakni melalui alokasi khusus dari jaringan distribusi, sistem sirkulasi air industri, serta pembangunan intake dan instalasi pengolahan air mandiri yang memanfaatkan sumber air sungai di sekitar lokasi.

Menurut Rino, kehadiran PSEL sebagai pelanggan industri juga berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan daerah. Pendapatan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat skema subsidi silang sehingga tarif air bagi pelanggan rumah tangga tetap terjaga.

Dengan target pembangunan yang terus dikebut, Pemkot Bogor berharap PSEL Kayumanis menjadi tonggak baru pengelolaan sampah modern yang lebih ramah lingkungan, mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir, sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan di Kota Bogor.