Pewarta : Anis
Kota Depok – Rencana satu nama, satu visi di Kadin Kota Depok harus ditunda. Prosesi yang awalnya diproyeksikan sebagai tonggak konsolidasi pengusaha justru berujung penarikan berkas pada Jum’at sore (1/8/2026) di Hotel Bumi Wiyata. Dr. Kalina, yang sebelumnya menjadi satu – satunya bakal calon Ketua Kadin Depok periode 2026 – 2031, memutuskan batal maju setelah tidak menemui titik temu dengan panitia terkait dana partisipasi.
Cerita bermula dari keputusan bersama. OC, SC, dan Kadin Jawa Barat awalnya mematok kontribusi Muskot Rp500 juta. Mengingat hanya ada satu kandidat, angka itu kemudian diturunkan jadi Rp375 juta. Kesepakatan ini sudah disampaikan ke tim Dr. Kalina sehari sebelumnya.
Namun suasana berubah saat acara penyerahan berkas. Alih-alih langsung menyerahkan, tim Dr. Kalina mengajak panitia diskusi di area restoran. Di meja itu diajukan proposal baru yaitu, setor awal Rp. 50 juta, pelunasan menyusul.
Alasannya mengacu pada komunikasi dengan oknum pengurus Kadin Jabar inisial B.
Panitia menolak. Bagi mereka, keputusan pleno adalah harga mati
“Ini bukan soal besar kecilnya angka. Ini soal kepatuhan pada aturan organisasi. Kalau satu orang bisa minta pengecualian, besok semua akan minta hal yang sama,” ucap sumber di internal panitia.
Ketua SC Kadin Kota Depok, Rendy, menegaskan panitia tidak pernah menolak berkas.
“Yang menarik berkas adalah beliau sendiri. Karena tidak sepakat dengan ketentuan, maka secara otomatis yang bersangkutan belum memenuhi syarat administrasi,” kata Rendy.
Meski negosiasi alot, panitia tetap menggelar seremoni simbolis sampai pukul 17.00 WIB. Setelah itu, semua pihak sepakat menghentikan proses.
Dengan mundurnya Dr. Kalina, maka proses pemilihan Ketua Kadin Depok kembali ke awal. SC dan OC menggelar pleno darurat malam itu juga.
Keputusan, pendaftaran dibuka ulang mulai sekarang hingga 26 Agustus 2026. Satu bulan sebelum Muskot dilaksanakan.
Panitia juga menyampaikan pesan tegas: tidak ada jalur khusus. Semua calon wajib mengikuti PO Kadin. Sebagai langkah penjernihan, seluruh panitia akan dipanggil ke Kadin Jawa Barat untuk menjelaskan duduk perkara.
Kadin selama ini diharapkan jadi rumah besar pengusaha Depok. Tapi insiden ini menunjukkan, urusan internal pun masih perlu pembenahan. Di tengah target penguatan UMKM dan investasi, citra organisasi diuji dari cara mereka menyelesaikan konflik sendiri.
Kini bola ada di tangan para pengusaha Depok. Siapa yang berani maju, dan siap tunduk pada aturan main bersama.












