Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Kisah Al Qomah, Malin Kundang, Batu Menangis sampai Kan’an adalah kisah adab anak manusia. Adab bagaimana seharusnya semua anak bersikap pada orangtua.
Sahabat pembaca orangtua atau ibu adalah simbol sakralitas yang harus dimuliakan, dijagai dan dicintai. Pepatah yang sangat populer mengatakan “Surga di bawah telapak kaki ibu”.
Pada dasarnya kehidupan umat manusia mengenali tiga ibu. Pertama Ibu kandung, kedua ibu almamater dan ketiga ibu pertiwi. Ketiganya, harus sangat dijunjung tinggi sakralitasnya.
Bahkan Bung Karno mengatakan, “Kita harus “mengorbankan” rasa lekas terharu berani meninggalkan ibu kandung demi Ibu Pertiwi”. Artinya kebangsaan, nasionalisme, kemerdekaan Ibu Pertiwi adalah utama.
Setelah Ibu Pertiwi dan sakralitas ibu kandung, ada satu lagi yang harus menjadi fokus bersama. Tiada lain adalah almamater, yakni ibu kandung pendidikan. Almamater artinya ibu pertiwi pendidikan. Sekolahan atau kampus identik sebagai “Ibu Kandung” ideologis, karakter dan pendidikan.
Ibu Pertiwi, Ibu Kandung dan Ibu Almamater adalah penting untuk dihormati. Kita bukan Al Qomah, Kan’an dan Malin Kundang. Kita para GTK adalah warga negara, warga keluarga dan warga sekolah yang punya adab, rasa hormat untuk memuliakan.
Terutama sekolahan sebagai alma (ibu). Pandanglah, anggaplah wilayah sekolah, mulai dari halaman depan, gerbang dan semua wilayah fisik sekolah sebagai “badan besar” ibu kandung. Jangan abaikan semua sudut wilayah sekolah karena bagian dari tubuh ibu kandung.
WC, ruang kelas, ruang guru, ruang perpus, lab, halaman, taman dan semua wilayah sekolah adalah tubuh ibu kandung. Kita jangan seperti Al Qomah atau Kan’an yang apatis, tak peduli dan tak pernah terlibat dalam upaya kebersihan, kesehatan dan keindahan sekolah.
Sekolah adalah wiyata mandala, area edukasi, area karakter dan berkebudayaan. Sekolah yang kumuh tak terawat identik dengan mentalitas Malin Kundang yang tak peduli dengan ibu kandung. Apalagi entitas ASN (PNS dan PPPK) yang hidup mencari nafkah, kehormatan profesi dari Sang Ibu Kandung.
Ketika Ibu Kandung diabaikan bersama oleh seluruh anaknya (warga civitas akademika) sehingga terlihat kumuh, jorok, kotor, sampah berserakan, hordeng nyengled versi Dr. Purwanto maka kita semua telah jadi anak anak durhako.
Tidak ada sukses dan berkah bagi anak durhako. Sahabat pendidik, warga almamater mari kita berusaha menjadi bagian dari penyayang ibu kandung. Sekolah adalah Ibu Kandung yang telah memberi “susu” nafkah dan kehormatan profesi.
Mari kita rawat bersama, mulai dari hal kecil, tapi konsisten. Seorang anak kecil berkata “Apa yang bisa saya bawa”. Seorang dewasa berkata “Apa yang bisa saya wariskan”. Setiap KS, dan GTK wajib menjadi “legator” pada generasi berikutnya. Budaya legacy, estafetsi konstruktif.










