Pewarta : Gervan
Kabupaten Sumedang – Memasuki musim kemarau, masyarakat Kabupaten Sumedang diimbau untuk semakin bijak dalam menggunakan sumber daya alam, khususnya air, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan.
Sekretaris BPBD Kabupaten Sumedang, Ahmad Yusuf, S.Hut., M.Si., mengatakan bahwa menjaga keberlangsungan kehidupan dan aktivitas masyarakat harus dimulai dari perilaku sederhana, salah satunya menggunakan sumber daya yang tersedia secara bijaksana.
Menurutnya, air merupakan sumber daya yang harus diprioritaskan penggunaannya, terlebih ketika sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan ketersediaan air.
“Untuk menjaga keberlangsungan hidup, keberlangsungan aktivitas dan sebagainya, yang pertama kita harus bijak menggunakan sumber daya yang ada, termasuk air. Penggunaan air, seperti saat wudhu, secukupnya dan diprioritaskan mana yang memang sebaiknya digunakan,” ujar Ahmad Yusuf, Kamis (27/08).
Ia menegaskan, ketika sumber-sumber air mulai mengering, persoalan tidak hanya terjadi pada sumber air alami. Ketersediaan air yang dikelola pemerintah pun dapat mengalami keterbatasan sehingga penggunaannya perlu diatur secara tepat.
“Ketika sumber-sumber air kering, jangankan sumber air dari alam, sumber air punya pemerintah juga ada beberapa daerah yang penggunaan airnya diatur betul. Artinya, kita sebagai pengguna juga harus bijak dan harus bisa mengatur,” katanya.
Selain menghemat air, Ahmad Yusuf juga mengingatkan masyarakat yang melakukan aktivitas di alam terbuka agar meningkatkan kewaspadaan. Musim kemarau biasanya dimanfaatkan masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa, untuk berkegiatan seperti berkemah karena kondisi cuaca yang relatif minim hujan.
Ia meminta masyarakat yang membuat api unggun atau perapian selama berada di alam terbuka untuk benar-benar memastikan api telah padam sebelum meninggalkan lokasi.
“Kalau bikin perapian, tolong dijaga perapiannya dengan baik, kemudian matikan sampai dengan sempurna,” tegasnya.
Peringatan serupa disampaikan kepada masyarakat yang melakukan aktivitas pertanian dan perkebunan. Ahmad Yusuf mengimbau agar pengolahan lahan tidak dilakukan dengan cara membakar karena api dapat dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan, terutama di lokasi yang sulit dijangkau.
“Jangan mengolah lahan dengan dibakar. Memang paling mudah, tetapi bahayanya juga paling gampang terjadi. Kalau sudah sampai terjadi bencana, yang paling susah adalah penanganannya, apalagi kalau daerahnya sulit dijangkau,” ungkapnya.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Sumedang juga terus menerima permintaan bantuan air bersih dari masyarakat yang mengalami kekurangan air. Kondisi di lapangan, kata Ahmad Yusuf, cukup beragam. Ada wilayah yang sumber airnya benar-benar habis, sementara di daerah lain kualitas air mengalami perubahan sehingga tidak lagi layak untuk dikonsumsi.
“Memang ada kondisi air yang sama sekali habis, ada juga yang berubah, yang tadinya layak untuk konsumsi sekarang menjadi tidak bisa dikonsumsi dan lain sebagainya,” jelasnya.
Karena itu, ia kembali mengajak seluruh masyarakat Sumedang untuk menghadapi musim kemarau dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Sekali lagi, bijak menggunakan sumber daya yang ada, terutama sumber daya air. Terus juga bijak dalam bertindak-tanduk di alam terbuka,” pungkas Ahmad Yusuf.
Pesan BPBD Sumedang: hemat air, gunakan sesuai kebutuhan, jangan membakar lahan, serta pastikan setiap api yang digunakan di alam terbuka benar-benar padam. Kepedulian kecil dari setiap warga menjadi langkah penting untuk mencegah bencana dan menjaga keberlangsungan kehidupan bersama.













