Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Setidaknya ada tiga hal yang sangat menarik di momen HUT PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2018. Pertama pukul 00.01 masuk dalam WA ku ucapan hari guru dari Sakti Alamsyah, anakku yang lagi ngambil program Ph.D di Hongaria. Kedua Instagram (IG) dan Fans Page Presiden Joko Widodo memasang foto ku sebagai ucapan selamat hari guru.
Dua hal di atas adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan personal Saya. Namun ada hal ketiga yang menurut Saya sebuah tradisi yang kurang baik. Apakah gerangan? Hal ketiga adalah “kelakuan” para pejabat daerah atau para pengusaha sukses yang lupa pada guru. Apa tanda lupa mereka? Mereka hampir tidak pernah mengucapkan selamat hari guru.
Ini sebuah anomali mentalitas para pejabat dan orang sukses di Indonesia. Kalau kacang lupa kulitnya itu wajar. Namanya juga kacang. Hanya kacang, bukan manusia dan bukan pejabat atau pengusaha sukses. Nah kalau pengusaha sukses dan pejabat lupa gurunya. Ini baru mentalitas sakit yang harus disembuhkan.
Anehnya para pejabat itu begitu proaktif dan responsif ketika seorang bupati, walikota, atau gubernur dilantik atau ulang tahun. Ucapan selamat mengalir deras. Diberbagai media, karangan bunga bahkan mungkin sejumlah “kado” spesial diberikan. Mengapa kalau untuk hari ulang tahun guru sepi-sepi saja?
Salah satu ciri gagalnya pendidikan dan rusaknya mentalitas kita menurut Saya adalah ketika gaya kolonialisme masih menguat dalam diri kita. Apa gaya kolonialisme itu? Diantaranya adalah ucapan selamat yang lebay pada atasan. Memuja atasan melupakan bawahan dan guru. Padahal ucapan terbaik lebih utama pada bawahan yang selalu melayani kita atau kepada orang yang berjasa mendidik dan membesarkan kita.
Orangtua, guru dan ulama diantaranya adalah orang yang berjasa dan layak diberikan ucapan selamat hari ulang tahun dan mendapatkan kado khusus dari kita. Realitasnya terbalik. Mental ABS dan kolonialis masih mengendap kuat dalam sesat pikir mentalitas bangsa kita. Para pejabat daerah begitu “berlomba” mengucapkan selamat ulang tahun pada seorang kepala daerah.
Gurunya dilupakan. Padahal menjadi pejabat itu harus melintasi sejumlah guru, namun prakteknya menjadi pejabat itu mesti melintasi tradisi jilatisasi dan konspirasi politik. Wah ini realitas anomal yang harus diubah. Idealnya sanjungan dan ucapan kepada para pejabat mulai dikurangi. Namun, khidmat kepada para guru, ulama dan orangtua mulai disemai.
Presiden Jokowi saja mengucapkan selamat kepada para guru. Mengapa para pejabat daerah tidak? Presiden sudah mencontohkan. Ini diantara kata-kata Presiden saat mengucapkan selamat hari guru dalam IG dan Fans Page nya. “Pendidikan adalah jalan panjang yang ditempuh sebuah bangsa yang menghadapi tantangan untuk membangun identitas, karakter, dan martabatnya. Di jalan inilah tugas guru tidak akan tergantikan. Mereka mengemban tugas profetik, menjalankan misi kemanusiaan, dan keberadaban dengan menggali, menyadarkan, dan mengajak serta menggerakan jiwa anak didik pada kebenaran dan kebaikan.
Tugas guru tidak ringan. Apalagi para guru honorer yang hidupnya pas-pasan namun tugas berat mendidik ada ditangannya. Sekitar 800 ribuan guru honorer di negeri ini hidup masih “sesak nafas.” Minimal ucapan selamat hari guru dari para pejabat daerah telah menjadi suplemen mental bagi mereka. Kecuali semua kepala daerah memberi SK Pengangkatan Para Honorer.
Sungguh sangat disayangkan bila SK Kepala Daerah tidak keluar ucapan selamatpun tidak kunjung muncul. Betapa indahnya bila para pejabat, pengusaha dan kepala daerah mengucapkan selamat hari guru dimuat diberbagai media. Andaikan semua pejabat, pengusaha dan para kepala daerah sukses tidak ada kaitannya dengan guru dan proses pendidikan, tidaklah mengapa mereka “kikir” ucapan.
Namun bila realitasnya semua pengusaha, pejabat dan para kepala daerah hasil didikan para guru, bukan keluar dari lubang batu. Maka sangat wajar bila mereka berempati, memotivasi dan apresiatif dengan mengucapkan selamat hari guru. Untuk guru waktu di SD, SMP/MTs, SMA/SMK dan di perguruan tinggi khususnya dan umumnya bagi semua guru di Indonesia. Uacapanmu bagian dari isi hati dan pikiranmu.
Selamat hari guru! Untuk guru TK ku Ibu Sinar. Untuk Guru SD ku Bapak Udin. Untuk guru SMP ku Bapak Dadang. Untuk Guru SMA ku Bapak Maskar. Untuk guru S1 ku Bapak Julius Siboro. Untuk guru S2 ku Bapak Entang. Untuk guru S3 ku Ibu Hj. Rita. Mohon maaf muridmu yang bodoh ini selalu membuatmu repot.
“Selamat Hari Guru”
