Oleh : Sugama
(Penyuluh Kehutan/IPKINDO DPW JABAR)
Kawasan Bandung Utara (KBU) sering kali dideskripsikan oleh para pujangga dan seniman sebagai kawasan molek nan menawan karena panoramanya yang indah dengan udara yang sejuk, jauh dari kebisingan, serta polusi. Sangat nyaman untuk dijadikan tempat peristirahatan. Itu mah jaman dahulu, lain lagi keadaannya dengan sekarang.
Seperti yang telah banyak diberitakan oleh beberapa media massa, yang memaparkan bahwa Kawasan Bandung Utara khususnya di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung kondisi lahannya yang berbukit-bukit, berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, mayoritas sudah dalam keadaan gundul.
Kondisi lahan yang berbukit dengan kemiringan sekitar 45 derajat lebih, lahan tersebut pada umumnya saat ini ditanami sayuran serta tanaman hortikultura semusim lainnya. Kawasan yang menjadi hulu bagi Sungai Cikapundung hingga Cidurian, yang termasuk DAS Citarum, sangat rawan akan terjadinya bencana alam, seperti erosi, longsor, dan banjir.
Dalam menyikapi permasalahan tersebut, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Epi Kustiawan memanggil Ketua Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO), Muhammad Yusuf, yang pada saat itu baru saja dilantik, beserta Penyuluh Kehutanan setempat, Edi “Gyver” Kusnadi untuk membicarakan cara penanganan wilayah Cimenyan yang telah banyak disorot media massa di Kawasan Jawa Barat.

Pada pembicaraan tersebut Epi Kustiawan meminta kepada Muhammad Yusuf dan Edi Gyver untuk segera mengadakan kegiatan penanaman di wilayah Cimenyan, agar secepatnya dapat menangani keadaan lahan yang telah gundul tersebut, dalam antisipasi mengatasi bencana yang mungkin akan timbul, yang biasanya terjadi pada musim hujan.
Selanjutnya Edi Gyver, yang pada waktu itu juga baru saja mutasi dari daerah Pajampangan, Sukabumi Selatan, merasa tertantang untuk segera mengatasi permasalah yang ada di daerah Cimenyan. Penyuluh Kehutanan yang di juluki “Si gesit irit” ini, selalu berkoordinasi dengan Ketua IPKINDO baru, yang semangat nya masih “Ngabret”.
Keduanya bergerak cepat untuk menjalin komunikasi dengan beberapa instasi dan lembaga kemasyarakatan, yang bersinggungan dengan masalah lingkungan dan pelestarian alam. Dari hasil lobi-lobi serta beberapa pertemuan diperoleh kesepakatan terselenggaranya Gerakan Nasional Penanaman Lahan Kritis tingkat Jawa Barat, di kawasan tersebut yang diprakarsai oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan bekerja sama dengan BPDAS HL Citarum – Ciliwung, yang mana Kegiatannya telah diselenggarakan pada tangal 9 Desember 2019.
Dalam kegiatan tersebut telah ditanam sebanyak 17,150 pohon, terdiri dari tanaman buah buahan (MPTS) dan tanaman konservasi (Kayu-kyuan).
Gerakan penanaman ini sendiri dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Kegiatan penaman ini juga selanjutnya diikuti oleh Para Pejabat Seputar Pemerintahan Daerah Jawa Barat, unsur TNI, POLRI, Kejaksaan, serta Para Penyuluh Kehutanan se Jawa Barat.

Selanjutnya kegiatan penanam dilakukan oleh para Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan setempat atas Bimbingan Penyuluh Kehutanan Wilayah Kecamatan Cimenyan. Kegiatan penanaman tersebut dikemas dalam pola Agroforestry, yaitu dilakukan penanaman campuran antara tanaman konservasi dengan tanaman MPTS dan tanaman semusim.
Sampai saat ini penanaman di daerah Cimenyan masih tetap berlangsung, dengan melibatkan berbagai fihak, baik dari unsur TNI, POLRI, dan Instansi Lainnya, maupun masyarakat setempat. Menurut laporan Edi Gyver, saat ini jumlah pohon yang telah ditanam di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 32,000 batang pohon, rata-rata populasi tanaman untuk tiap hektarnya sebanyak 500 batang per hektar.
Untuk lebih lanjut Dinas Kehutanan Jawa Barat membuat pola Agroforestry yang akan dilaksanakan khusus di Wilayah Cimenyan dan Cilengkrang. Disamping itu juga Edi Gyver dengan luwes terus melakukan komunikasi dan pendekatan dengan beberapa elemen yang peduli terhadap kerusakan wilayah KBU diantaranya adalah Gerakan Hejo, Odesa, Cadas, JPCH, serta unsur PKSM yang sama-sama bersedia untuk beraksi.
Edi Gyver juga menambahkan bahwa dalam pelaksanaannya kegiatan penanaman ini terus dimonitor oleh Satgas Citarum harum yang bersasal unsur dari TNI. Dan dapat dukungan penuh dari Dansektor 22 Satgas Citarum Harum Kol Inf Asep Rahman Taufik.













