Guru Pramuka Adalah Pembunuh ??

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Membaca tulisan Darmaningtyas agak kaget Saya. Mengapa kaget? Karena Ia menuliskan ketiga guru Pramuka itu adalah pembunuh 10 siswa dalam susur sungai. Lebih kaget lagi adalah sejumlah orang menyetujui apa yang disimpulkan Darmaningtyas.

Sudah sejauh itukah banalitas tokoh dan masyarakat membenci guru? Guru itu manusia biasa. Ia bisa lalai, khilaf, teledor, ngantuk dan bertindak loyo. Kalau guru Pembina Pramuka dalam tragedi susur sungai dianggap pembunuh sungguh terlalu kata Rhoma Irama. Kalau menurut Saya sungguh tuna adab!

Menganggap guru pembina Pramuka pembunuh dan sejumlah orang mendukung pernyataan itu, menurut Saya itu sebuah simpulan tak pantas. Simpulan kelompok tak waras, terlihat berkepala, punya otak tetapi tak punya hati.

Pantaskah stigma pembunuh diberikan pada ketiga guru pramuka yang sedang terkena musibah karena kelalaiannya? Tulisan ini bukan karena Saya guru dan pengurus organisasi guru. Sungguh pernyataaan ini terlihat bagai pemikiran anak – anak.

Apa kata anak-anak dan istri serta keluarga besar para tersangka bila profesi mereka sebagai guru pembina pramuka dianggap pembunuh. Orangtua dari anak-anak tersangka dianggap sebagai pembunuh adalah sangat tuna adab, kosong hati dan minus etika!

Bukankah Darmaningtyas adalah termasuk cedikiawan pendidikan? Bukankah pernyataannya sangat tak berpendidikan ? Ia memiliki persepsi yang dangkal atau sangat dangkal! Manalah mungkin guru pembina pramuka dianggap sebagai pembunuh 10 siswa!

Selanjutnya Ia menulisakan seolah pintar padahal justru menunjukan pemikiran yang dangkal. Ia menuliskan, “Termasuk organisasi guru PGRI yang baper dengan menyalahkan polisi yang memperlakukan mereka seperti pelaku kriminal”.

Sungguh Pak Darmaningtyas malah lebih parah, bukan hanya baper malah kupermot. Kurang pergaulan dan lemot. Saya hanya guru SMA dari pinggiran! Pak Darmaningtyas adalah tokoh nasional pendidikan. Kok persepektifnya sangat kampungan!

PGRI tidak baper. PGRI sudah sejak kejadian menyayangkan dan mengakui kelalaian dan keteledorang guru. Anak yang meninggal itu adalah harta yang paling berharga di negeri ini, mereka tidak akan bisa kembali lagi. Mereka adalah “Bidadari” berwujud manusia bagi kedua orangtuanya.

PGRI awalnya tidak ada gerakan “melawan” oknum polisi! Gerakan PGRI awalnya malu dan merasa terpukul atas kelalaian guru pembina pramuka. Semua guru dan PGRI “tiarap” dan tahu diri karena ada tragedi susur sungai yang sangat memalukan profesi guru pembina pramuka.

PGRI turut berduka bahkan sejumlah sekolah disarankan berdoa dan mengumpulkan bantuan dana untuk keluarga yang terkena musibah. Di era ramah anak (SRA) PGRI sangat mendukung guru ramah anak. Bahkan Saya sendiri pernah menjadi nara sumber SRA di kegitan Kementerian PPPA.

PGRI sangat berduka pada anak didik yang meninggal. PGRI sangat menyadari bahwa setiap guru punya pekerjaan dan kehormatan karena ada anak didik. Anak didik bagi guru dan PGRI adalah segalanya. Melayani anak didik adalah ibadah terindah.

Di luar dugaan emosional kolektif guru muncul saat tersebarnya video dan gambar di sejumlah media. Ini alami dan sangat manusiawi, para guru tersinggung, terharu dan sejumlah guru lainnya menangis. Melihat tiga guru pramuka “diperlakukan” bagai begal motor.

Reaksi yang wajar dan sangat-sangat nalar. Guru macam apa yang tidak “bereaksi” atas perlakuan oknum penyidik yang membotaki “gurunya sendiri” hakekatnya demikian. Hanya guru “abal-abal” dan guru KW9 yang tak tersentuh rasanya bila melihat guru dibotaki, alas kakinya ditelanjangi, diberi baju pesakitan dan bagai diarak.

Guru saat ini sebenarnya sudah mulai diam dan emosi kolektifnya mereda. Saat Darmaningtyas menyimpulkan tiga guru pembina pramuka adalah pembunuh, kembali rasa solidaritas guru tersinggung. Kalau Darmaningtyas berniat mau melecehkan profesi guru nampaknya sudah cukup “berhasil”. Silahkan saja anda nikmati. Waspada “kutuk guru” bisa menimpa!

Darmaningtyas kini setidaknya sudah menjadi enemy bagi para guru. Dalam tulisan terakhrnya Ia menuliskan, “Bagi yang suka baca kitab suci (apa pun agamanya), ada satu ayat yg substansinya itu kira-kira berbunyi, membunuh satu nyawa manusia itu ibarat membunuh seluruh umat manusia. Nah, ini membunuh 10 nyawa manusia lho.

Tulisan Darmaningtyas nampak pintar dan mengkaitkan dengan ajaran agama. Padahal sebenarnya keblinger! Ajaran agama justru menjelasakan kematian seseorang itu Tuhan yang absolut menetukan. Sehelai daun yang jatuh pun atas ijin Tuhan.

Apalagi banjir bandang dan tragedi susur sungai adalah “rahasia Ilahi” bukan ranah kita. Bagaimana kalau sejak di alam ruh, tragedi susur sungai itu sudah Tuhan catat tangal dan harinya? Mau mengatakan Tuhan pembunuh?

Justru yang benar adalah, “Bila penyidik menggunduli tiga guru pembina pramuka sama dengan menggunduli seluruh guru Indonesia”. Rambut memang bisa tumbuh kembali! Apakah kehoramtan profesi guru semurah rambut yang bisa tumbuh kembali? Mari para tokoh nasional berpikir tinggi dan melangit jangan kaya anak anjal yang tak sekolah!

Ingat!!! Nama baik dan harga diri sebuah profesi itu tidak mudah dijaga. Bila ada oknum guru narkoba sungguh martabat guru ambruk. Sebaliknya bila ada oknum polisi selalu cari uang dijalanan sama juga sungguh citra Polri ikut ambruk.

Satu oknum guru narkoba, seluruh guru Indonesia ikut tercoreng. Satu oknum Polisi selalu cari uang di jalan raya, seluruh Polri tercoreng! Tiga guru dibotaki, jutaan guru merasa dibotaki. Satu oknum pimpinan dan petugas penyidik gunduli guru maka sampai Kapolri pun akan terkena getah marah guru!

Saya sisipkan pesan Sujiwo Tejo dalam twitternya, “Yth, Bapak Kapolri Jenderal Pol Idham Azis, dan dengan segala empati kepada murid-murid yang meninggal, luka-luka, traumatis dan lain-lain dari peristiwa susur sungai, beserta keluarganya, izinkan *saya jujur bahwa agak terusik melihat guru-guru tersangka itu digunduli dan diarak seperti pesakitan tertentu* Tribunnews.com (27/2/20).

Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Mudzakir mengatakan, “Saran saya kepada penyidik yang memperlakukan (guru dibotaki) mintalah maaf kepada publik supaya publik nanti tidak memberikan reaksi, itu akan memperlemah penegakan hukum di masa yang akan datang,” Republika.co.id, Rabu (26/02/20).