Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ulama muda, Gus Miftah dalam sebuah video yang diunggah di you tube mengatakan “Hari ini marak di Indonesia, menyalahkan orang lain, kita yang paling benar”. Inilah yang melahirkan hadirnya persekusi, intimidasi dan hal tekanan lainnya bagi seseorang.
Gus Miftah saat diwawancara Trans TV, Ia ditanya terkait persekusi beberapa pihak kepadanya. Ia mengatakan dapat stigma sebagai Dajjal, disebut anjing, dibilang kafir dan sebutan lainnya. Mengapa Ia distigma? Diantaranya karena Ia berdawah di café. Shalawatan dihadiri perempuan yang berpakaian seksi-seksi.
Gus Miftah adalah ulama muda yang terlihat tak lazim. Ia berda’wah di café. Ia tidak alergi pada sejumlah pelacur, Ia pun memberi ceramah pada para pemandu lagu (PL). Gus Miftah diantara hujahnya adalah, “Kalau tidak ada ulama yang mendatanginya, lalu siapa yang mengajak mereka?
Gus Miftah adalah ulama muda NU bersama Gus Baha, Gus Muwafiq yang mengedepankan kebangsaan dan kenusantaraan. Mereka berguru pada Gus Dur,Habieb Luthfi dan sejumlah ulama lainnya. Pemahaman tentang Al Quran dan hadist para ulama ini termasuk luar biasa dan mampu mengkontesktualisasi.
Bahkan pemahaman atau konteskstualisasinya terkadang menjadi kontroversi bagi yang lain. Mengapa Gus Miftah disebut sosok Dajjal? Diantaranya karena dianggap sesat atau menyesatkan bagi sejumlah orang atau kelompok. Itulah dinamika da’wah. Selalu ada yang mengikuti dan membenci.
Setiap manusia punya kelemahan dan kelebihan. Kelebihan manusia adalah anugrah dari Ilahi dan kelemahannya adalah kefanaan dirinya. Setiap manusia tentu punya rasa ingin mengajak pada kebaikan. Apalagi Ia merasa punya sebuah pengetahuan yang menurutnya baik.
“Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.” (HR. Bukhari). Ini menjelasakan bahwa Sang Nabi menyuruh kita berani menyampaikan ajakan kebaikan. Walau pun hanya sedikit, sedikit saja mengajak pada kebaikan adalah sangat baik. Di negeri ini butuh memperbanyak para pengajak dan penyampai kebaikan.
Disisi lain di negeri ini pun sejumlah orang agak takut menyampaikan kebaikan versi pemahaman dirinya. Takut dianggap sesat, menistakan agama atau takut dianggap bukan bidangnya. Bahkan dianggap mengambil “panggung” orang lain. Hal ini wajar dan bisa terjadi di sebagaian masyarakat kita.
Sosok ulama muda sekaliber Gus Miftah saja disebut Dajjal, anjing, kafir dan sebutan risak lainnya. Satu sisi hal ini dapat membuat pelajaran dan kehati-hatian bagi penceramah. Disisi lain dapat pula membuat keraguan atas upaya mengekspresikan ajakan belajar pada kebaikan.
Seorang penulis bernama Heru Harjo Hutomo menuliskan, “Bahwa ketika dua dunia yang berbeda saling bersinggungan acap yang mencuat pertama kali adalah versi tandingan sebagai sebentuk mekanisme natural pertahanan diri ketika batas saling diretas”.
Narasi lainnya Heru Harjo Hutomo menjelaskan bahwa kalau di dunia akademisi berbeda itu cenderung biasa. Penggalian bebas niai dari sebuah ilmu pengetahuan membuka ruang perbedaan yang vulgar. Namun publik yang cenderung terbiasa dogmatis, perbedaan itu dianggap “meretas” sebuah kebenaran.
Heru memberi contoh, “Ketika dahulu tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla, difatwa mati oleh sebagian orang, KH. Abdurrahman Wahid menyatakan, Selama menantu Gus Mus itu masih mengakui bahwa Allah itu Esa dan Muhammad adalah utusanNya, ia bukanlah seorang kafir. Gus Dur memang lebih terbuka dan sangat toleran.
Bahkan Gus Dur sendiri adalah tokoh kontroversial di republik ini. Terutama saat membuka peluang hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan Gus Dur pun pernah distigma sebagai Dajjal oleh sebagian orang. Dajjalisasi pada seorang tokoh memang mudah di negeri ini.
Dalam jejak digital sejumlah tokoh di Dajjalkan. Lihat Fanspage bertitel Dokter Spesialis Bedah ada judul tulisan dan menceritakan sejumlah “dosa” Gus Dur. Ia memberi judul “Gus Dur is De Young DAJJAL”. Sebuah narasi dan ajakan mendajallkan Gus Dur. Itulah dinamika diperensiasi perspektif manusia.
Kebanyakan dari kita manusia selalu ngotot membela apa yang diyakini dan dianggapnya benar. Kalau Ia merasa salah dan keliru tentu tidak akan ngotot. Kebenaran hanya milik Allah dan semoga perbedaan pemahaman itu adalah asbab lahirnya sebuah telaah yang lebih baik pada tafsir pesan-pesan langit!













