Pewarta Tm Liputan Khusus
Koran SINAR PAGI, kab. Bandung,- Paman Elon Juru Kunci Cebek Soreang sering menceritakan, sosok pejuang pasukan Siluman Merah, diantaranya Apuh Jakaria. Apuh Jakaria satu diantaranya yang paling berani perang melawan Gurka Belanda.
Pada thn 1942 Apuh Jakaria, bergabung dengan pasukan Siluman Merah yang di komandani Letjen TNI Purnawirawan Achmad Wiranatakusumah. Apuh Jakaria bergabung dengan pasukan tersebut di Gunung Halu yang di pimpin Aki Muhidin sedangkan Aki Rohidin di Soreang, Pasir jambu, Ciwidey.
Apuh Jakaria saat itu di tugaskan di wilayah Cigombong, Cimaskara, Cikangkareng, Batu Lawang, Cibinong, Sindang Barang, Gunung Sumul Kab. Cianjur .beranggotakan 200 orang.
Apuh Jakaria saat itu sebagai komandan di wilayahnya. Tiap hari, siang dan malam tidak hentinya berperang melawan Gurka Belanda dengan senjata seadanya seperti Dorlok. Apuh Jakaria pernah di culik dan di tawan di Kp Warung Pasir. Pasir jambu, Kab. Bandung selama dua minggu, disiksa, dianiaya oleh tentara Gurka Belanda. Tidak segan-segan mereka memukuli dengan batang senjata. Berkat pertolongan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Apuh Jakaria dapat lolos dari tawanan Gurka Belanda.
Paska lolos dari tawanan Tentara Gurkal, Apuh Jakaria memutuskan untuk menemui gurunya di Cebek Soreang. Setelah bertemu dengan gurunya Apuh menceritakan apa yang telah dialami selama ditawan di Pp.warung, Pasir jambu. Sang Guru memutuskan agar Apuh Jakaria hijrah ke Cebek Soreang. Pada thn 1946 s/d thn 1949 keluarga dan anaknya tinggal di Cebek.
Selanjutnya Apuh Jakaria kembali ke wilayah Cianjur Selatan untuk melanjutkan perjuangannya terus berperang melawan penjajah Belanda.
Apuh Jakaria meninggal thn 1967 meninggalkan istri dan dua orang anak, yaitu :
1.Bandi Sobandi, saat ini berdomisili di Desa Panyokan, Kec. Ciwidey.
2. Ade Sobandi, adik kandung dari Bandi Sobandi, kini tinggal di Sindang Barang, Cianjur
itulah sekilas sejarah Pasukan Siluman Merah sesuai dengan yang dikisahkan oleh Paman Elon Juru Kunci Cebek
